Jumat, 24 Februari 2017

Sekilas Tentang Dheyo



Muhammad Hidayat Chaidir atau yang sering memakai nama Dheyo Keanu Ch dalam publikasinya adalah Ketua Angkatan Gerakan Pencerah Nusantara – Batch II - sebuah program yang diinisiasi oleh Kantor Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia Untuk Millennium Development Goals. Novel pertamanya terbit di Yogyakarta dengan judul Siwe Lakey tahun 2012. Kemudian pada tahun yang sama, ia ikut menulis buku Negeri Kunang-Kunang bersama teman-temannya yang tergabung dalam Forum Indonesia Muda (FIM). 

M.H.C

Dheyo pernah bekerja dengan komunitas Dayak di pedalaman Kalimantan Timur selama satu tahun – Oktober 2013 hingga Oktober 2014, dan pengalamannya bersama para Pencerah Nusantara yang mengabdi di pelosok negeri seperti itu telah diterbitkan oleh Penerbit Buku KOMPAS dengan judul Kisah Tujuh Penjuru.  Selanjutnya pada tahun 2015, ia menerbitkan novel keduanya yang berjudul Senja Di Langit Tambora. Sekali-sekali Dheyo juga menulis opini atau feature di harian Suara NTB dan Tribun Bali.   

Sejak awal 2015, Dheyo mengasah keterampilannya menulisnya di Rumah Dunia (Banten) di bawah asuhan seorang penulis ternama Indonesia, Gola Gong. Selama mengikuti kelas menulis di sana, Dheyo belajar banyak tentang teori dan teknik menulis esai, artikel, novel hingga puisi. Hal ini tentu membuatnya semakin berbagairah dalam menekuni dunia kepenulisan.     

Dheyo sekolah di FKIP Universitas Mataram. Saat menjadi mahasiswa, pemuda kelahiran Dompu (NTB), 12 November 1986 ini pernah menjadi Ketua Student Association of English Department (STATEMENT), Runner Up TERUNA NTB 2007, dan peserta Pertukaran Pemuda Antar Negara ( The Ship for South East Asian Youth Program). Sebuah program yang membuatnya mencicipi homestay di Jepang, Philipina, Brunai Darussalam, Malaysia dan Vietnam.

Kini Dheyo aktif sebagai relawan di Rumah Zakat (RZ) cabang Cilegon, sekaligus menjadi staf pengajar di salah satu lembaga kursus bahasa Inggris di sana. Pada Januari 2015 Dheyo menikah dengan Iim Karimah, dokter jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya yang dikenalnya di Kantor Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia Untuk Millenium Development Goals, Jakarta.     

Bersama istri tercinta saat berlibur di Gn. Bromo, 2016

Kamis, 23 Februari 2017

BERBURU BABI BERENANG ( Catatan Pencerah Nusantara )



Siang itu, langit Kelay terlihat indah dengan pemandangan awan putih yang berarak-arakan. Kami baru saja menyelesaikan satu tugas mulia, membantu proses persalinan istri Kepala Kampung Lesan Dayak, Mathias. Setelah sempat istirahat, saatnya kami bertiga siap diantar kembali ke pusat kecamatan. Asyik, satu tugas telah diselesaikan dengan baik. Kami bersyukur banget. Kini kebahagiaan menghiasi wajah kepala kampung itu. Air mukanya enggak panik lagi seperti subuh tadi. Selamat yah. Jangan lupa jadwal imunisasi untuk buah hatinya,hehe.        

Kami berpamitan pada semua warga kampung. Terima kasih atas sambutannya yang ramah dan hangat. Enggak lama, aku, Upi, dan Novi sudah di atas ketinting. Meluruskan kaki dan bersandar sesuka hati. Kalau ramai mana bisa seperti ini, yang ada malah kaki kami kaku plus kesemutan karena duduk berdempet-dempetan. Yah, itulah dukanya kerja di pedalaman. Eh, maaf-maaf, Pencerah Nusantara enggak boleh mengeluh, apalagi meratap. Ini tugas mulia untuk warga negara terpilih kan !(selected people).       

Kali ini Pak Mathias enggak memacu ketintingnya seperti tadi pagi. Yah ngapain juga dipacu. Sudah enggak ada yang dikejar. Ijinkan kami menikmati alam Kalimantan yang eksotik sebagai pelepas lelah sekaligus cuci mata. Sejurus kemudian aku merebahkan badanku dan menatap langit yang begitu bersih dan biru. Wah, sungguh pulau ini benar-benar anugerah Tuhan yang paling hebat untuk tanah air Indonesia. 

Aku mengangkat tubuhku lima belas menit kemudian. Nah, enggak bosan-bosannya aku bercerita tentang kondisi di sekelilingku yang berupa bentangan hutan-hutan perawan yang luas. Pohon-pohon raksasa yang tegak berdiri seolah menantang langit yang tinggi. Hmm, walau kami jauh kelap kelip lampu di kota, cukuplah alam yang memperlihatkan kuasa Tuhan yang membuat kami terpesona.   
Ketinting sebagai alat transportasi utama masyarakat di hulu sungai Kelay

Ketinting melaju pelan melawan arus sungai. Dan sepanjang pelayaran sungai itu aku berusaha menutup kegelisahanku tentang berbagai permasalahan kesehatan di sana. Tentang rendahnya cakupan imunisasi lah, rendanya antenatal care lah, dan lain-lain. Sebab jika sudah bersentuhan dengan kepercayaan masyarakat, aku pun mengerutkan dahi.

Perjalanan hari itu enggak cuma diisi oleh kepanikan, melainkan juga kejutan dari pemuda-pemuda Dayak ketika mereka memarkirkan ketintingnya di pinggir sungai lalu sembunyi di baliknya. Enggak bisa kubayangkan apa yang hendak mereka lakukan. Aih, penasaran lagi nih. ‘’Itu orang-orang lagi menunggu babi berenang Pak Mantri”, teriak Pak Mathias.

Yah, aku baru sadar. Hmm, rupanya ini yang pernah diceritakan Dokter Idus dulu, Berburu Babi Berenang. Wah keren juga sebutannya, be be be,haha. Di samping berladang dan mencari madu, hampir semua lelaki Dayak yang berusia produktif suka banget terlibat dalam aktivitas berburu. Apalagi bagi mereka yang hidup di lingkungan sekitar hutan, Hmm, berburu merupakan rutinitas yang penting.
Rimba raya Kalimantan

Soalnya di samping menjadi hiburan karena dilakukan ramai-ramai, berburu juga dapat menjadi aktivitas khusus untuk memperoleh pendapatan tunai. Yah, money talk nih. Menurut mereka perburuan secara khusus itu biasa dilakukan saat musim binatang buruan berlimpah dan harga jual yang meningkat.
sekarang sedang musim babi berenang”, ucapnya lagi.

Aku selalu kagum pada orang-orang Dayak Punan, Dayak Ga’ai, Dayak Lebbo maupun Dayak Kenyah mengenai kuatnya hubungan mereka dengan alam. Semuanya sudah sangat paham dan dengan tepat mengetahui kapan dan dimana babi-babi itu biasa berkumpul atau bermigrasi. Selanjutnya kapan dan dimana babi-babi itu biasa berjalan, mencari makan dan minum di hutan. Luar biasa yah. Kata Pak Mathias keahlian itu mereka miliki dari pengalaman secara turun temurun yang diwariskan oleh para pemburu sebelumnya.

Kalau enggak berdasarkan perilaku binatang, tanda-tanda alam sih yang sering mereka andalkan. Lokasi juga sudah mereka kenali. Contohnya jejak bekas kotoran, jejak kaki, kubangan, dan daerah lembah. Dulu aku berpikir bahwa itu hanya untuk mengisi waktu luang saja. Eh, ternyata enggak. Babi yang didapat ternyata enggak hanya untuk dikonsumsi sendiri, tapi juga dijual dengan harga kisaran Rp.15.000,-/ kg.

Waktu itu aku meminta Pak Mathias untuk memperlambat lagi laju ketintingnya. Harapanku semoga saja ada babi yang berenang,hehe. Enggak sabar rasanya ingin melihat orang-orang itu berlomba-lomba menghidupkan mesin ketintingnya dan mengejar babi berenang bersama-sama. Seperti apa kehebohan yang terjadi di atas sungai Kelay? Intinya aku penasaran lah. Sungguh penasaran.

Dari kejauhan seorang pemuda kulihat sedang memperbaiki tombaknya. Itulah senjata utama yang mereka gunakan untuk berburu babi berenang. Jika mereka berburu di hutan, alat-alat tradisional lain yang digunakan ialah jerat tali, sumpit, parang, dan jebakan. Dengan peralatan sederhana seperti itu, selain babi hutan, binatang lain yang kerap kali ditangkap ialah kijang, kancil, musang, dan monyet.

“Pada waktu-waktu tertentu, babi-babi akan berpindah untuk mencari sumber makanan yang baru” kata Pak Mathias.  Oleh sebab itu orang-orang itu akan mengintai di lokasi-lokasi dimana binatang buruannya biasa melintas”, sambungnya. Enggak cuma itu, dalam hal mengintai mereka juga harus benar-benar paham arah angin dan posisi agar enggak tercium oleh binatang tersebut.

Upi dan Novi sudah tidur rupanya. Capek banget pastinya mereka berdua. Sementara aku masih melihat satu persatu mereka yang sedang sembunyi di balik dedauan. Biasanya mereka akan membuat tempat-tempat pengintaian yang unik dari daun-daun di pinggir sungai pada jarak 10-15 meter.

Memang enggak banyak sih yang diceritakan Dokter Idus waktu itu, tapi aku ingat semuanya. Misalnya menunggu binatang berenang (ripa demangui) adalah satu dari sekian banyak teknik perburuan yang dilakukan oleh orang-orang Dayak. Selain itu ada juga yang menjaga di tempat minum air asin (ripa enar) atau bahkan menjaga di tempat makan buah (ripa bua).

Yah, waktu terus bergerak. Barangkali aku belum beruntung untuk bisa menyaksikan bagaimana orang-orang itu merawat tradisi. Enggak ada satu pun babi yang nongol. Duh, lagi bobo ciang kali yah,haha. Ya sudahlah, memang belum beruntung. Coba lagi di lain kesempatan. 

POTRET PENDIDIKAN DI KAMPUNG LONG SULUY ( Catatan Pencerah Nusantara )



Cerita ini terjadi sekitar akhir tahun 2014 lalu. Pada satu kesempatan tim Pencerah Nusantara bersama rombongan Bupati Berau, yang terdiri dari seluruh SKPD di Kabupaten Berau berkunjung ke kampung Long Suluy. Itulah kampung terjauh yang lokasinya di daerah hulu kecamatan Kelay. Enggak ada akses darat loh ke sana. Ambulans puskesmas hanya bisa mengantar kami sampai ke Long Duhung. Selebihnya ketintinglah alat penghubung kampung.

Jalan licin dan jurang-jurang yang curam menjadi pemandangan yang menakutkan selama perjalanan. Banyak batang-batang kayu besar (logs) yang diletakkan berantakan di tepi-tepi jalan. Sebab di sana beberapa perusahaan kayu memang masih aktif beroperasi. Waktu itu kami bermalam di kampung Long Duhung. Mengadakan kegiatan antara lain penjaringan kesehatan siswa-siswi sekolah dasar, posyandu balita, dan pelatihan pengisian Kartu Menuju Sehat untuk para kader kesehatan. Esoknya rombongan orang-orang di pemerintahan tiba di Long Duhung selanjutnya kami sama-sama memulai perjalanan menuju Long Suluy. 
 
Aktivitas perusahaan kayu di kecamatan Kelay
Puluhan ketinting berjejer di sepanjang bibir sungai. Hmm, enggak seperti biasanya nih. Yah, namanya juga ada pejabat yang turun. Pasti ramailah,hehe. Petualangan akan segera dimulai, mengarungi sungai Kelay selama empat jam. Itulah pengalaman yang sangat membekas dan enggak akan pernah kulupakan. Aku, Reas, Septi, Upi dan Novi berada di dalam satu ketinting. Kebetulan juga saat itu ada dua orang staf di Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk Millennium Development Goals yang sedang melakukan site visit ke daerah penempatan kami. Tujuan sih meng-update informasi.

Kiri dan kanan sungai terdapat hutan Kalimantan yang rindang. Sungai yang kami dan seluruh rombongan lalui terlampau lebar dengan arus yang deras. Selama perjalanan religiusitas anggota rombongan meningkat karena doa-doa untuk keselamatan banyak dipanjatkan. Dan duduk diam di atas ketinting sambil bercerita ringan, mengabadikan diri lewat karena telepon genggam, atau tidur dibuai guncangan riak-riak sungai adalah hal-hal yang menarik.

Hati kami gembira menyaksikan semua ketinting melaju dengan kecepatan masing-masing menembus kampung-kampung di pedalaman. Hmm, suasananya berbeda banget. Masyarakat Long Lamcin, Long Boi, dan Long Pelay sempat menonton kami. Mereka tampak ceria melihat konvoi ketinting hari itu. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa seperti sedang menyaksikan lomba cepat ketinting.
Penulis sedang memimpin rapat dengan pengurus Desa Siaga di kampung Long Duhung

Satu yang membuatku pribadi senang saat melihat mereka yang melambaikan tangannya tinggi-tinggi sembari tersenyum. Jumlahnya enggak sedikit lho. Sambutan hangat mereka dibalas oleh kami dengan senyum yang enggak kalah hangat. Namun, sesuatu yang hebat tiba-tiba terjadi.  Hujan turun di saat rombongan baru menempuh setengah perjalanan. Aduh, kacau nih.  

Jadi gimana terus? Kan enggak ada tempat berteduh di tengah sungai. Mau enggak mau yah perjalanan harus tetap dilanjutkan sehingga semua anggota rombongan basah. Enggak terkecuali Bupati beserta isterinya, Wakil Bupati, dan Ketua DPRD. Hmm, dingin sudah pasti. Lapar juga enggak bisa diingkari. Akan tetapi enggak ada alasan untuk mengeluh. Semua tetap harus dinikmati hingga kami benar-benar sampai di kampung yang dituju. 

Malamnya, Bupati Berau H Makmur, Wakil Bupati Ahmad Rifa’i dan Ketua DPRD Hj. Elita Herlina beserta rombongan lain membaur dengan masyarakat. Tarian-tarian tradisional disuguhkan oleh pemuda-pemudi setempat untuk tamu istimewa yang mungkin baru pertama kalinya berkunjung ke situ. Acaranya pun berlangsung hingga larut malam. Rombongan bermalam di rumah-rumah warga. Sementara tim Pencerah Nusantara di puskesmas pembantu.

Bangun pagi. Sarapan dan sebagainya. Lalu kami siap membuka aktivitas. Lelah seharian kemarin sudah kami bayar lunas dengan istirahat yang cukup semalaman. Suhu tadi malam sangat dingin. Maklumlah kampung itu letaknya persis di tepi hutan. Aku sedikit kedinginan karena jaketku masih basah sejak kemarin sore. 

Seperti di kampung Long Duhung, kami melakukan hal yang sama. Aku, Reas dan Septi ke sekolah untuk penjaringan kesehatan sedangkan Upi dan Novi mengumpulkan para kader karena akan ada pelatihan pengisian KMS. Enggah jauh sih jarak sekolah dengan pustu. Atau kalaupun jauh kami nggak akan mengeluh. Sebab sudah dilatih di Akademi Militer dulu,hehe. Duh, ingat itu lagi.

Di sekolah kami enggak menemukan banyak peserta didik. Loh kemana mereka, seruku dalam hati. Kepada kami, satu – dua orang guru di situ bercerita jujur.  banyak yang sedang ikut orangtuanya masuk hutan, ungkapnya. Kami yang mendengarnya sungguh terkejut. Terlebih aku yang basic-nya seorang guru. Pikirku, bagaimana mungkin aku mengijinkan murid-murid meninggalkan sekolah yang bukan pada waktunya. Liburan maksudnya. Hmm, aku sedikit shock. Akhirnya penjaringan kesehatan enggak bisa mencapai angka yang telah ditargetkan. Yah, begitulah kondisinya.  

Anak-anak itu bisa berbulan-bulan di tengah hutan. Waduh, lama juga yah! Ngapain aja tuh di hutan? Walau demikian status sebagai murid enggak ada yang berani mengganggu gugat. Enggak ada tindakan coret nama dari daftar hadir siswa sekali pun tiga bulan sudah enggak menyetor batang hidungnya ke sekolah. Apalagi sanksi tegas, hmm, enggak ada sama sekali tuh. Kalau sudah menyentuh urusan itu, sejumlah staf pengajar banyak yang NO COMMENT. Menerima keadaan sebagai hal yang wajar.  
 
Long Suluy
Tentu itulah yang menyebabkan kualitas anak-anak itu terbilang sangat kurang. Karena sekolah hanya aktivitas untuk mengisi waktu luang saja sambil menunggu musim masuk hutan tiba. Menambah pengetahuan belum menjadi prioritas. Sehingga paradigma bahwa sekolah ialah ruang intelektual yang akan membentuk sikap dan perilaku enggak kunjung hadir dalam pikiran mereka.

Usai kegiatan aku sempat ngobrol-ngobrol ringan dengan Reas di kelas. Memang benar yah ketika masyarakat bermasalah dengan pendidikannya, masalah lain yang otomatis muncul ialah kesehatan dan ekonomi. Hmm, ibarat dua sisi uang logam nih, enggak bisa dipisahkan karena terlanjur mengikat satu sama lain.hehe. Sayang sekali padahal ada proses pendidikan yang sedang diupayakan oleh guru-guru yang hatinya tulus.     

Matahari sudah mulai meninggi nih, ketika teman-teman lain kembali ke pustu, aku memilih bertahan di sekolah. Lanjut mengumpulkan informasi dari guru-guru. Percakapan pun berputar ke berbagai hal, tapi lebih banyak tentang karakter anak-anak dengan sekilas informasi tentang orangtuanya sih.
 
Berdasarkan pengakuan mereka, anak-anak di Long Suluy juga enggak pernah mendapat motivasi dari orangtuanya. Hal ini juga enggak lepas dari tingkat pendidikan orangtuanya yang cukup memprihatinkan. Banyak yang enggak tuntas di sekolah dasar. Sehingga dari kapasitas orangtua akan sangat sulit bagi si anak memperoleh teladan serta pola hidup yang baik dan bertanggung jawab demi masa depannya kelak. Bagi orangtuanya, mengajari anak-anak mereka mendirikan pondok-pondok sederhana di dalam hutan, tahu caranya mencari madu, mengerti cara mengambil buah, menguasai langkah-langkah menangkap babi itu semua jauh lebih penting. Enggak ada tuh di bangku sekolah.

Dan kalaupun ke sekolah, anak-anak di Long Suluy jarang yang bersentuhan dengan yang namanya mandi pagi atau sikat gigi. Enggak perlu membawa buku juga kadang-kadang. Nasehat yang diberikan setiap saat agar mandi sebelum berangkat ke sekolah hanya angin lalu saja. Sudah bertahun-tahun kondisinya masih seperti itu. Miris juga yah. 

Jika ditelusuri baik-baik, ada yang membuat orang-orang di sana patut merasa pesimis atas semua ini. Pertama terkait infrastruktur. Hingga berakhir masa tugas kami di sana belum ada listrik sehingga anak-anak meraka enggak bisa belajar malamnya. Kedua akses untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi pun sulit. Sekolah Menengah Pertama ada di pusat kecamatan. Huuuf, jauhnya tuh.

Aku yakin dalam pikiran mereka muncul semacam kepasrahan atau putus asa terhadap keadaan. Bagaimana mungkin para orangtua mampu membawa anak-anak menyeberangi jembatan panjang perubahan di tengah alam yang enggak mendukung sedikit pun. Sehingga mereka berkesimpulan dari pada menghabiskan waktu untuk sesuatu yang enggak menjamin hidup mereka, lebih baik fokus pada hal-hal yang sudah pasti. Termasuk keluar masuk hutan.

Duh, aku jadi bingung nih. Yuuuk semuanya ikut bantu mencari benang merahnya? Benang putihnya enggak yah, Haha. Pertama sih tugas pemerintah nih menjamin pendidikan yang berkualitas untuk mereka. Sebab mereka juga anak-anak Indonesia lho yang segenap tumpah darahnya harus dilindungi oleh negara. Lho bahasanya sudah kemana tuh,hehe. Karena boleh jadi masalahnya bukan pada anak-anak yang enggak mau sekolah melainkan ketersediaan akses yang belum memadai. Dilema banget kan.

Waktunya pulang. Hari itu juga tim Pencerah Nusantara kembali naik ketinting. Menempuh perjalanan berikutnya yang lebih enggak terduga. Setelah seharian memikirkan proses pendidikan di Long Suluy, kali ini aku harus ikut memikirkan nasib ketinting yang maju mundur seperti dipermainkan arus. Dan lelaki Dayak yang bertubuh kekar itu adalah seorang motoris dengan keahlian dan pengetahuan mendalam tentang aliran sungai Kelay. Bagaimana menghindari tikungan-tikungan, memotong simpang-simpang, sampai memanfaatkan arus-arus. Sunguh luar biasa. Walau penampilannya lemah dia adalah pribadi yang tangguh.