Kamis, 23 Februari 2017

PEMIMPIN MUDA SEBAGAI SOLIDARITY MAKER SEKALIGUS CULTURE AMBASSADOR



Sebaiknya tak perlu ada dikotomi antara anak muda dan orangtua dalam hal kepemimpinan”, begitu kata sahabat saya saat mendorong pion putih tanda permainan catur kami dimulai. “Asalkan mereka punya kemampuan yang mumpuni, didukung pengalaman memimpin”, lanjutnya. Saat giliran saya yang harus mendorong pion hitam, saya sempat berucap dalam hati, “ benar juga sih”. Kemudian satu persatu bidak-bidak itu kami geser dari posisi awalnya guna membentuk pertahanan masing-masing. Sore yang hening.  

“Saatnya Yang Muda Memimpin”, kalau saya tidak salah ingat, wacana ini pertama kali digelorakan sekitar tahun 2008 silam di Nusa Tenggara Barat. Saat itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa tingkat enam di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram. Bapak Muhammad Zainul Majdi – atau yang lebih populer dengan panggilan Tuan Guru Bajang – bersama Bapak Badrul Munir yang maju sebagai pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB berada di balik jargon ini. Karena dari segi usia keduanya lebih muda dibanding dengan tiga pasangan lainnya.

Hari ini mungkin ada yang bertanya, mengapa mereka unggul dari yang lain? Jawabannya adalah semangat untuk berubah. Mungkin kurang tepat, akan tetapi itulah benang merah yang bisa saya tarik dari fenomena tersebut. Bukan stereotype belaka melainkan realitas yang sesungguhnya. Bahwa kalangan muda cenderung dinamis, selalu menginginkan sesuatu yang baru. Mereka bersahabat dengan inovasi, melek teknologi, dan hidup dalam pusaran dunia digital yang kreatif. Belum lagi jika memperhatikan modal-modal lain seperti tingkat pendidikan, kapasitas intelektual, pengalaman sebagai politikus dan birokrat/teknokrat, keduanya memang layak diberi mandat oleh masyarakat sebagai pemimpin.

Saya berhenti merenung saat lawan di depan mengangkat peluncurnya tanda mengancam. Seketika saya berjaga-jaga demi keselamatan raja, dan kondisi kembali aman.  Berbagai strategi menyerang pun sebenarnya sedang kami pikirkan baik-baik. Tinggal menunggu momentum yang tepat. Ibarat seorang pemimpin, kami harus memiliki kecerdasan yang tinggi untuk menggerakkan seluruh perangkat yang ada di atas papan hitam putih itu sesuai dengan kapasitasnya agar menang.

Saya tidak ingin meng-underestimate apa yang sahabat saya tadi katakan di awal. Sebab walau bagaimana pun, tidak jarang juga ada pemimpin-pemimpin yang hebat belakangan ini yang usianya barangkali tidak muda lagi. Semangat untuk mencurahkan tenaga dan pikiran demi kebaikan / kesejahteraan masyarakat yang dipimpinnya selalu menjadi semacam petunjuk bagi mereka untuk melangkah dalam mengejar ketertinggalan pembangunan. Saya pribadi menaruh simpati yang besar pada dedikasi orang-orang seperti mereka. Hanya saja, saya punya catatan tersendiri tentang kepemimpinan kaum muda yang cerdas.

Yah, sekitar pertengahan tahun 2014 lalu, saya bergabung dengan Gerakan Pencerah Nusantara. Sebuah model kolaborasi interprofesi untuk membantu percepatan pencapaian Millennium Development Goals (MDGs) di Indonesia. Bersama empat orang pemuda lainnya yang masing-masing berprofesi sebagai dokter, bidan, perawat dan ahli gizi, kami dikirim ke pedalaman Kalimantan Timur, tepatnya di Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau selama satu tahun.

Selain membantu Puskesmas dalam menuntaskan program-program dasarnya, kami juga terjun langsung ke kampung-kampung terluar untuk mengispirasi masyarakat lewat berbagai program agar menjadikan kesehatan dan pendidikan sebagai dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari pembangunan manusia. 

Nah, ada satu kampung yang kebetulan menjadi binaan kami, namanya Merabu. Melalui program Desa Siaga, kami bersama-sama dengan perangkat kampung, tenaga kesehatan, dan masyarakat setempat bahu-membahu memperbaiki kualitas kesehatan di situ. Setiap kali berkunjung kami memberikan pelatihan kepada kader-kader posyandu, pelatihan untuk pengurus desa siaga, ikut meramaikan program “Jumat Sehat” dan lain-lain. Namun,  yang paling berkesan dari pengalaman selama bertugas adalah menyaksikan dengan seksama bagaimana seorang pemimpin muda beraksi untuk kampung yang belum disentuh oleh listrik dan air bersih itu.

Namanya Franly Oley, pemuda berusia 25 tahun yang waktu itu baru saja dipilih  menjadi kepala kampung yang masyarakatnya adalah orang asli Dayak Lebbo,  Jawa, Sulawesi, bahkan dari timur Indonesia. Sungguh beragam dan jumlahnya kurang lebih 205 jiwa. Franly Oley adalah pendatang asal Manado, dia lahir di Modoinding, Sulawesi Utara tanggal 27 April 1989, Pak Franly – begitu dia sering saya sapa- menjalankan peran dan fungsi sebagai warga kampung dengan baik.

Jika ada pertemuan-pertemuan di balai, dia hadir dan membaur di antara warga lain. Saat ada kerja bakti, dia berpartisipasi aktif tanpa pamrih. Kemampuannya berbahasa Inggris memudahkannya dalam berinteraksi dengan beberapa aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang konsen terhadap isu perubahan iklim dari berbagai negara. Dan satu best practice yang ingin saya ceritakan dari kepemimpinan orang muda ini adalah memperjuangkan SK Hutan Desa dari Kementerian Kehutanan RI.

Pertama-tama dia menggagas berdirinya lembaga “Kerima Puri”, yang dalam bahasa Dayak Lebbo berarti hutan yang indah. Karena hampir tidak bisa dipungkiri bahwa hutan bagi masyarakat kampung Merabu ibarat deposito bank yang mereka siapkan untuk kehidupan di masa yang akan datang. Hutan seperti mesin Ajungan Tunia Mandiri (ATM) yang bisa mereka datangi kapan pun mereka mau dan butuh. Aset-aset yang bisa menjadi sumber kehidupan karena menyokong pertumbuhan ekonomi mereka tersimpan di hutan itu. Misalnya sarang burung walet, madu, dan payau (menjangan). 

Dengan berkolaborasi bersama rekan-rekan penggiat LSM, dia menerapkan pola pendekatan Disclosure, Define, Discover, Dream, Design, Delivery, dan Drive, singkat cerita Merabu menjadi satu-satunya kampung di provinsi Kalimantan Timur yang mendapat penghargaan bergengsi itu. Dengan diraihnya SK Hutan Desa oleh Kampung Merabu, perhatian pemerintah daerah pun mulai terfokus. Program-program seperti peningkatan ekonomi dan perlindungan hutan manjadi bukti bahwa pemerintah peduli dan mau membantu kampung itu.

Hmm, sejenak saya perhatikan peluncur dan kuda putih kembali mengancam pertahanan saya. Saya harus segera mengambil langkah-langkah antisipasi. Pertama kuda saya tempatkan persis di depan raja dan kedua peluncur pun ada di sekitar itu. Pengawalan ekstra untuk yang mulia baginda raja. Kuda dan peluncur sengaja dipindah posisikan agar memudahkan proses rokade bagi raja dan benteng. Setelah kondisi saya pastikan aman, saya kembali pada ingatan yang dulu.  

Jika dicermati dengan baik maka akan ada sederet pelajaran (lesson) yang berharga dari the place of nowhere itu. Pertama, Franly Oley adalah tipe kepemimpinan orang muda yang cerdas. Dia bekerja dengan kapasitas intelektualnya, berpikir dan bersinergi. Jiwa mudanya tampak jelas dari semangatnya menggerakkan orang-orang di sekitarnya. Bagi saya, dia telah berhasil menjalankan perannya sebagai Solidarity Maker. Dia merangkum semua perbedaan di kampung itu untuk membentuk satu kekuatan bersama, dan itu semua terbukti. Selain itu, dia juga sosok pemimpin yang berorientasi pada tindakan (action oriented). Seorang eksekutor yang menggelindingkan perubahan secara riil.

Orang yang cerdas biasanya punya arah pandangan yang jelas tentang masa depannya. Itulah yang disebut dengan visioner. Meminjam istilah Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul CHANGE!, pemimpin visioner itu seperti mata. Mata yang tidak hanya bisa bergerak cepat, tapi juga mampu melihat hal-hal yang tidak tampak oleh mata orang kebanyakan. Menurut saya Franly Oleh telah membuktikan itu di kampung Merabu.

Matahari terus ke barat. Saling serang di antara kami pun tidak bisa dihindari. Ada yang bertahan dan ada pula yang harus diikhlaskan ke luar arena lebih awal. Baik kuda hitam maupun putih meloncat ke sana ke mari dengan gagahnya. Lincah pula seperti kuda Sumbawa yang terkenal itu. Sementara peluncur dan perdana menteri melangkah dengan penuh percaya diri, raja berhati-hati. Setelah itu, lagi-lagi saya merenung.      
Dalam konteks Nusa Tenggara Barat misalnya, sejatinya seorang Tuan Guru Bajang sudah hampir dua periode meletakkan dasar-dasar ke-muda-an dan kecerdasan itu dalam peran dan fungsinya sebagai seorang pemimpin. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, saling melengkapi. Dan kita bisa sama-sama lihat prestasi-prestasinya untuk kemaslahatan masyarakat seluruhnya. Sehingga ke depan provinsi ini sepertinya masih membutuhkan sosok pemimpin muda dan cerdas.

Jujur saya tidak sedang berhayal loh, melainkan juga mengaitkannya dengan suasana di daerah dimana saya lahir dan besar. Ambil contoh, tahun lalu pemerintah provinsi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB meluncurkan GenPI Lombok Sumbawa. Sebuah gerakan promosi pariwisata yang banyak melibatkan anak-anak muda kreatif. Satu potret komitmen generasi muda untuk ambil bagian dalam upaya memajukan pariwisata di daerahnya. Ada lagi anak muda dari Lombok Utara, kebetulan sahabat baik saya, yang menginisiasi berdirinya sebuah lembaga kemanusiaan “Endri’s Foundation“ yang fokus membantu kalangan difable di NTB.  Selanjutnya sahabat-sahabat saya yang lain mendirikan sebuah lembaga non-profit yang bernama EDU LAND. Konsen mereka ada pada edukasi anak-anak pesisir tentang pendidikan dan lingkungan. Dan masih banyak lagi gerakan-gerakan inspiratif lainnya yang digagas oleh anak-anak muda. 

Lalu apa hubungannya dengan kepemimpinan? Nah, menurut Dr. Arief Munandar, seorang pakar sosiologi politik, seorang pemimpin harus bisa menjalankan peran mendasarnya sebagai Culture Ambassador. Dia harus mampu merepresentasikan masyarakat dan nilai-nilai dimana dia hidup dan memimpin. Sekarang kita semua menyadari betapa anak-anak muda di NTB sedang menjalankan perannya sebagai aktor perubahan yang positif bagi  masyarakat dan daerahnya. Gubernur Muhammad Zainul Majdi pada hemat saya telah mewakili semangat anak-anak muda di Nusa Tenggara Barat. Menjadi semacam  icon perubahan dan kemajuan yang berkelanjutan.

Dan tidak terasa, kami sudah di penghujung permainan. Kini keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat, saya mendominasi serangan. Hmm, sepertinya dua langkah lagi semua akan berakhir. Hanya tujuh yang masih hidup di atas papan. Kemudian tanpa harus mengulur-ulur waktu, saya mengangkat perdana menteri untuk terakhir kalinya. “Skak” ucap saya menutup permainan.  

Dalam perjalanan pulang ke rumah, sebenarnya saya masih kepikiran dengan apa yang sahabat tadi ucapkan. Memang ada benarnya, tapi keyakinan saya berangkat dari pengalaman dan apa yang pernah saya baca, terus saya coba renungkan lagi, bahwa NTB ke depan masih membutuhkan pemimpin muda dan cerdas. Ada banyak cerita-cerita lain yang barangkali bisa menjadi bahan pertimbangan bersama, sebut saja Bapak Ridwan Kamil di Bandung pada level Bupati/Walikota.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar