“Sebaiknya tak perlu ada dikotomi antara anak
muda dan orangtua dalam hal kepemimpinan”, begitu kata sahabat saya saat
mendorong pion putih tanda permainan catur kami dimulai. “Asalkan mereka punya kemampuan yang mumpuni, didukung pengalaman
memimpin”, lanjutnya. Saat giliran saya yang harus mendorong pion hitam,
saya sempat berucap dalam hati, “ benar
juga sih”. Kemudian satu persatu bidak-bidak itu kami geser dari posisi
awalnya guna membentuk pertahanan masing-masing. Sore yang hening.
“Saatnya
Yang Muda Memimpin”, kalau saya tidak salah ingat, wacana ini pertama kali
digelorakan sekitar tahun 2008 silam di Nusa Tenggara Barat. Saat itu saya
masih berstatus sebagai mahasiswa tingkat enam di Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Universitas Mataram. Bapak Muhammad Zainul Majdi – atau yang lebih
populer dengan panggilan Tuan Guru Bajang – bersama Bapak Badrul Munir yang
maju sebagai pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB berada di balik
jargon ini. Karena dari segi usia keduanya lebih muda dibanding dengan tiga
pasangan lainnya.
Hari
ini mungkin ada yang bertanya, mengapa mereka unggul dari yang lain? Jawabannya
adalah semangat untuk berubah. Mungkin kurang tepat, akan tetapi itulah benang
merah yang bisa saya tarik dari fenomena tersebut. Bukan stereotype belaka melainkan realitas yang sesungguhnya. Bahwa kalangan
muda cenderung dinamis, selalu menginginkan sesuatu yang baru. Mereka
bersahabat dengan inovasi, melek teknologi, dan hidup dalam pusaran dunia
digital yang kreatif. Belum lagi jika memperhatikan modal-modal lain seperti
tingkat pendidikan, kapasitas intelektual, pengalaman sebagai politikus dan
birokrat/teknokrat, keduanya memang layak diberi mandat oleh masyarakat sebagai
pemimpin.
Saya
berhenti merenung saat lawan di depan mengangkat peluncurnya tanda mengancam.
Seketika saya berjaga-jaga demi keselamatan raja, dan kondisi kembali aman. Berbagai strategi menyerang pun sebenarnya
sedang kami pikirkan baik-baik. Tinggal menunggu momentum yang tepat. Ibarat
seorang pemimpin, kami harus memiliki kecerdasan yang tinggi untuk menggerakkan
seluruh perangkat yang ada di atas papan hitam putih itu sesuai dengan kapasitasnya
agar menang.
Saya tidak ingin meng-underestimate
apa yang sahabat saya tadi katakan di awal. Sebab walau bagaimana pun,
tidak jarang juga ada pemimpin-pemimpin yang hebat belakangan ini yang usianya
barangkali tidak muda lagi. Semangat untuk mencurahkan tenaga dan pikiran demi
kebaikan / kesejahteraan masyarakat yang dipimpinnya selalu menjadi semacam
petunjuk bagi mereka untuk melangkah dalam mengejar ketertinggalan pembangunan.
Saya pribadi menaruh simpati yang besar pada dedikasi orang-orang seperti mereka.
Hanya saja, saya punya catatan tersendiri tentang kepemimpinan kaum muda yang
cerdas.
Yah, sekitar pertengahan tahun 2014 lalu, saya bergabung
dengan Gerakan Pencerah Nusantara. Sebuah model kolaborasi interprofesi untuk
membantu percepatan pencapaian Millennium
Development Goals (MDGs) di Indonesia. Bersama empat orang pemuda lainnya
yang masing-masing berprofesi sebagai dokter, bidan, perawat dan ahli gizi,
kami dikirim ke pedalaman Kalimantan Timur, tepatnya di Kecamatan Kelay,
Kabupaten Berau selama satu tahun.
Selain membantu
Puskesmas dalam menuntaskan program-program dasarnya, kami juga terjun langsung
ke kampung-kampung terluar untuk mengispirasi masyarakat lewat berbagai program
agar menjadikan kesehatan dan pendidikan sebagai dua hal yang tidak bisa
dipisahkan dari pembangunan manusia.
Nah, ada satu
kampung yang kebetulan menjadi binaan kami, namanya Merabu. Melalui program
Desa Siaga, kami bersama-sama dengan perangkat kampung, tenaga kesehatan, dan
masyarakat setempat bahu-membahu memperbaiki kualitas kesehatan di situ. Setiap
kali berkunjung kami memberikan pelatihan kepada kader-kader posyandu, pelatihan
untuk pengurus desa siaga, ikut meramaikan program “Jumat Sehat” dan lain-lain.
Namun, yang paling berkesan dari pengalaman
selama bertugas adalah menyaksikan dengan seksama bagaimana seorang pemimpin
muda beraksi untuk kampung yang belum disentuh oleh listrik dan air bersih itu.
Namanya Franly
Oley, pemuda berusia 25 tahun yang waktu itu baru saja dipilih menjadi kepala kampung yang masyarakatnya adalah orang
asli Dayak Lebbo, Jawa, Sulawesi, bahkan
dari timur Indonesia. Sungguh beragam dan jumlahnya kurang lebih 205 jiwa.
Franly Oley adalah pendatang asal Manado, dia lahir di Modoinding, Sulawesi
Utara tanggal 27 April 1989, Pak Franly – begitu dia sering saya sapa- menjalankan
peran dan fungsi sebagai warga kampung dengan baik.
Jika ada pertemuan-pertemuan di balai, dia hadir dan membaur
di antara warga lain. Saat ada kerja bakti, dia berpartisipasi aktif tanpa pamrih.
Kemampuannya berbahasa Inggris memudahkannya dalam berinteraksi dengan beberapa
aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang konsen terhadap isu perubahan
iklim dari berbagai negara. Dan satu best
practice yang ingin saya ceritakan dari kepemimpinan orang muda ini adalah
memperjuangkan SK Hutan Desa dari Kementerian Kehutanan RI.
Pertama-tama dia menggagas berdirinya lembaga “Kerima Puri”,
yang dalam bahasa Dayak Lebbo berarti hutan yang indah. Karena hampir tidak
bisa dipungkiri bahwa hutan bagi masyarakat kampung Merabu ibarat deposito bank
yang mereka siapkan untuk kehidupan di masa yang akan datang. Hutan seperti
mesin Ajungan Tunia Mandiri (ATM) yang bisa mereka datangi kapan pun mereka mau
dan butuh. Aset-aset yang bisa menjadi sumber kehidupan karena menyokong
pertumbuhan ekonomi mereka tersimpan di hutan itu. Misalnya sarang burung
walet, madu, dan payau (menjangan).
Dengan berkolaborasi bersama rekan-rekan penggiat LSM, dia menerapkan
pola pendekatan Disclosure, Define,
Discover, Dream, Design, Delivery, dan Drive,
singkat cerita Merabu menjadi satu-satunya kampung di provinsi Kalimantan
Timur yang mendapat penghargaan bergengsi itu. Dengan diraihnya SK Hutan Desa
oleh Kampung Merabu, perhatian pemerintah daerah pun mulai terfokus.
Program-program seperti peningkatan ekonomi dan perlindungan hutan manjadi
bukti bahwa pemerintah peduli dan mau membantu kampung itu.
Hmm, sejenak saya perhatikan peluncur dan kuda putih kembali
mengancam pertahanan saya. Saya harus segera mengambil langkah-langkah
antisipasi. Pertama kuda saya tempatkan persis di depan raja dan kedua peluncur
pun ada di sekitar itu. Pengawalan ekstra untuk yang mulia baginda raja. Kuda
dan peluncur sengaja dipindah posisikan agar memudahkan proses rokade bagi raja
dan benteng. Setelah kondisi saya pastikan aman, saya kembali pada ingatan yang
dulu.
Jika dicermati dengan baik maka akan ada sederet pelajaran (lesson) yang berharga dari the place of nowhere itu. Pertama, Franly
Oley adalah tipe kepemimpinan orang muda yang cerdas. Dia bekerja dengan
kapasitas intelektualnya, berpikir dan bersinergi. Jiwa mudanya tampak jelas
dari semangatnya menggerakkan orang-orang di sekitarnya. Bagi saya, dia telah
berhasil menjalankan perannya sebagai Solidarity
Maker. Dia merangkum semua perbedaan di kampung itu untuk membentuk satu
kekuatan bersama, dan itu semua terbukti. Selain itu, dia juga sosok pemimpin yang
berorientasi pada tindakan (action
oriented). Seorang eksekutor yang menggelindingkan perubahan secara riil.
Orang yang cerdas biasanya punya arah pandangan yang jelas
tentang masa depannya. Itulah yang disebut dengan visioner. Meminjam istilah
Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul CHANGE!, pemimpin visioner itu
seperti mata. Mata yang tidak hanya bisa bergerak cepat, tapi juga mampu
melihat hal-hal yang tidak tampak oleh mata orang kebanyakan. Menurut saya Franly
Oleh telah membuktikan itu di kampung Merabu.
Matahari terus ke barat. Saling serang di antara kami pun
tidak bisa dihindari. Ada yang bertahan dan ada pula yang harus diikhlaskan ke
luar arena lebih awal. Baik kuda hitam maupun putih meloncat ke sana ke mari
dengan gagahnya. Lincah pula seperti kuda Sumbawa yang terkenal itu. Sementara
peluncur dan perdana menteri melangkah dengan penuh percaya diri, raja
berhati-hati. Setelah itu, lagi-lagi saya merenung.
Dalam konteks Nusa Tenggara Barat misalnya, sejatinya seorang
Tuan Guru Bajang sudah hampir dua periode meletakkan dasar-dasar ke-muda-an dan
kecerdasan itu dalam peran dan fungsinya sebagai seorang pemimpin. Keduanya ibarat
dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, saling melengkapi. Dan kita bisa
sama-sama lihat prestasi-prestasinya untuk kemaslahatan masyarakat seluruhnya. Sehingga
ke depan provinsi ini sepertinya masih membutuhkan sosok pemimpin muda dan
cerdas.
Jujur saya tidak sedang berhayal loh, melainkan juga
mengaitkannya dengan suasana di daerah dimana saya lahir dan besar. Ambil
contoh, tahun lalu pemerintah provinsi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
NTB meluncurkan GenPI Lombok Sumbawa. Sebuah gerakan promosi pariwisata yang
banyak melibatkan anak-anak muda kreatif. Satu potret komitmen generasi muda
untuk ambil bagian dalam upaya memajukan pariwisata di daerahnya. Ada lagi anak
muda dari Lombok Utara, kebetulan sahabat baik saya, yang menginisiasi
berdirinya sebuah lembaga kemanusiaan “Endri’s Foundation“ yang fokus membantu
kalangan difable di NTB. Selanjutnya sahabat-sahabat saya yang lain
mendirikan sebuah lembaga non-profit yang bernama EDU LAND. Konsen mereka ada
pada edukasi anak-anak pesisir tentang pendidikan dan lingkungan. Dan masih
banyak lagi gerakan-gerakan inspiratif lainnya yang digagas oleh anak-anak
muda.
Lalu apa hubungannya dengan kepemimpinan? Nah, menurut Dr. Arief
Munandar, seorang pakar sosiologi politik, seorang pemimpin harus bisa menjalankan
peran mendasarnya sebagai Culture
Ambassador. Dia harus mampu merepresentasikan masyarakat dan nilai-nilai
dimana dia hidup dan memimpin. Sekarang kita semua menyadari betapa anak-anak
muda di NTB sedang menjalankan perannya sebagai aktor perubahan yang positif
bagi masyarakat dan daerahnya. Gubernur
Muhammad Zainul Majdi pada hemat saya telah mewakili semangat anak-anak muda di
Nusa Tenggara Barat. Menjadi semacam icon perubahan dan kemajuan yang
berkelanjutan.
Dan tidak terasa, kami sudah di penghujung permainan. Kini
keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat, saya mendominasi serangan. Hmm,
sepertinya dua langkah lagi semua akan berakhir. Hanya tujuh yang masih hidup di
atas papan. Kemudian tanpa harus mengulur-ulur waktu, saya mengangkat perdana menteri
untuk terakhir kalinya. “Skak” ucap
saya menutup permainan.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, sebenarnya saya masih
kepikiran dengan apa yang sahabat tadi ucapkan. Memang ada benarnya, tapi
keyakinan saya berangkat dari pengalaman dan apa yang pernah saya baca, terus
saya coba renungkan lagi, bahwa NTB ke depan masih membutuhkan pemimpin muda
dan cerdas. Ada banyak cerita-cerita lain yang barangkali bisa menjadi bahan
pertimbangan bersama, sebut saja Bapak Ridwan Kamil di Bandung pada level Bupati/Walikota.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar