JODOH, satu kata yang kalau dibicarakan
nih, hmm, bikin orang berdebar-debar. Secara gitu, siapa sih yang nggak ingin
ketemu dengan jodohnya. Nah, ngomong-ngomong soal yang satu ini, ada yang
bilang nggak usah dicari, nanti akan datang sendiri. Trus, ada lagi loh yang
bilang, gimana mau datang kalau nggak dijemput, loh apalagi nih maksudnya.haha.
Malah jadi bingung kan !
Aku sih percaya banget, ada banyak cara
dan jalan yang telah disiapkan oleh Tuhan untuk manusia menemukan jodohnya.
Nah, aku sendiri termasuk dipertemukan dengan cara yang unik – paling tidak
menurut diriku sendiri – dengan jodohku. Tapi sebelum lanjut ke cerita itu, aku
ingin sedikit flashback dulu nih ke masa-masa SMP di kampung dulu.
Ceritanya begini, sejak kecil aku
senang baca kisah hidup orang-orang besar. Dan ayahku adalah orang pertama yang
memperkenalkan hobi istimewa ini padaku. Saat di bangku sekolah dasar aku sudah
baca riwayat hidup presiden-presiden Amerika. Menyusul beberapa tokoh-tokoh
dunia seperti Nabi Muhammad SWT, Nelson Mandela, dst. Kata ayahku, dengan
banyak membaca riwayat hidup orang-orang besar seperti itu, kita akan tahu tentang
jalan hidup mereka, yang kemudian kita bisa belajar banyak di dalamnya. Duh,
jadi ingat ayah di kampung nih, habis ini telepon aaah.hehe.
Nah, suatu hari aku pernah baca sekilas
tentang riwayat hidup Bapak Marty Natalegawa (Mantan Duta Besar Indonesia untuk
Amerika Serikat dan Menteri Luar Negeri pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II
di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono). Beliau itu pernah lama di luar
negeri, bahkan di usia 11 tahun beliau sudah mengenal kehidupan luar. Satu hal
yang membuatku kagum adalah proses pemerolehan jodohnya,hehe –kembali ke topik
awal nih-.
Jadi Pak Marty itu ketemu jodohnya di
perpustakaan kampus loh, keren banget kan. Kala itu beliau sedang menempuh
pendidikan di Inggris. Perjumpaan pertama yang langsung membuatnya jatuh hati
dengan seorang perempuan asal Thailand bernama Sranya Bamrungphong. Jujur waktu
itu aku tuh terinspirasi dengan sangat gitu, bahwa keinginan untuk memperoleh
nasib yang sama begitu besar. Yah, walaupun nggak di perpustakaan, di
ruang-ruang yang prestigious lah, dalam
suasana diskusi, seminar atau sejenisnya.
Berlanjut nih ceritanya, pokoknya dalam
mindset aku tuh ingin suatu saat
nanti ketemu jodoh di ruang-ruang istimewa seperti yang sudah kusebut di atas. Bertahun-tahun
loh pikiran itu bersemanyam dalam diriku. Hingga pada suatu hari aku bertemu
dengan seorang perempuan asal Cilegon dalam sebuah diskusi di Jakarta.
Mulai nih ceritanya,haha. Namanya Iim
karimah, dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang.
Secara nggak sengaja aku terlibat dalam satu sesi diskusi kelompok terarah
dengannya. Diskusi yang dimaksud merupakan rangkaian dari proses seleksi untuk
menjadi Pencerah Nusantara –sebuah program penguatan pusat layanan kesehatan
primer yang digagas oleh Kantor Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia Untuk
Millenniun Development Goals.
Yah seperti anak muda Indonesia
kebanyakanlah, usai diskusi kami kenalan sambil tukar nomor Handphone.hehe.
Selanjutnya, dari Jakarta kami kembali ke rumah masing-masing. Aku pulang ke
Dompu, Nusa Tenggara Barat, sedangkan Iim merapat ke Cilegon. Komunikasi di
antara kami pun terjalin terus menerus sembari menunggu pengumuman
kelulusan.
![]() |
| Foto prewed di studio foto |
Singkat cerita, tepat sebulan setelah
seleksi FGD, Interview, dan Psikotes itu, akhirnya kami menerima satu berita
gembira yaitu diterima menjadi Pencerah Nusantara. Ini berarti kami harus siap
dikirim ke pelosok nusantara untuk mengabdi selama satu tahun. Namun sebelum
berpisah, lewat komunikasi yang terjalin dengan sangat hangat tadi, aku dan
dokter Iim diam-diam telah sepakat untuk menjalani hubungan yang serius. Jadi,
persis sebelum masuk training Pencerah Nusantara yang dipusatkan di TMII, kami
berdua sudah dalam status calon isteri dan calon suami. Haha. Duh, jadi malu
sendiri nih kalau ingat yang gini-gini. Semoga bisa dibaca oleh anak-anak kami
suatu hari nanti. Aamiin Ya Rabb.
Setahun mengabdi untuk Indonesia
tercinta. Aku kerja dengan komunitas suku Dayak di pedalaman Kalimantan Timur –
kecamatan Kelay - Kabupaten Berau -. Sementara dokter Iim di pesisir Ogotua –
kecamatan Dampal Utara- Kabupaten Toli-toli - Sulawesi Tengah.
Dan cintapun akhirnya membawa kami
untuk kembali ke Jakarta. Nggak lama setelah kontrak dengan Kantor Utusan
Khusus Presiden Republik Indonesia untuk MDGs itu habis, kami pun sepakat untuk
mengikat hubungan ini dalam satu ikatan suci. Tapi sebelum itu pastinya ada
proses lamaran dululah.hehe. Itu
berlangsung sekitar bulan Oktober 2014, sebelum kami melangsungkan acara akad
nikah dan resepti pada tanggal 4 Januari 2015.
![]() |
| Resepsi pernikahan kami berlangsung di Gd. Kampus Al-Khairiyah- Cilegon |
Nah, kembali lagi ke inti cerita yah, mindset. Kalian pasti pernah baca dong
buku-buku motivasi yang mengagungkan kekuatan berpikir dan kekuatan kayakinan. Jujur,
aku dulu berawal dari hal yang sama. Semuanya berawal dari mimpi, hingga Tuhan
mengabulkan mimpiku itu.
![]() |
| Ny. Iim Karimah Hidayat |
Tenang sahabat-sahabatku yang belum
menemukan jodohnya, Tuhan telah menyiapkan orang-orang terbaik / pilihan bagi
kalian semua kok dengan cara yang nggak disangka-sangka. Kuncinya satu, keep chin up atau stay positive ajalah sama yang di atas. Karena prasangkaNYA pada
kita tergantung prasangka kita padaNYA.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar