Kamis, 23 Februari 2017

Ada Cinta Dalam Ruang Diskusi



JODOH, satu kata yang kalau dibicarakan nih, hmm, bikin orang berdebar-debar. Secara gitu, siapa sih yang nggak ingin ketemu dengan jodohnya. Nah, ngomong-ngomong soal yang satu ini, ada yang bilang nggak usah dicari, nanti akan datang sendiri. Trus, ada lagi loh yang bilang, gimana mau datang kalau nggak dijemput, loh apalagi nih maksudnya.haha. Malah jadi bingung kan !

Aku sih percaya banget, ada banyak cara dan jalan yang telah disiapkan oleh Tuhan untuk manusia menemukan jodohnya. Nah, aku sendiri termasuk dipertemukan dengan cara yang unik – paling tidak menurut diriku sendiri – dengan jodohku. Tapi sebelum lanjut ke cerita itu, aku ingin sedikit flashback dulu nih ke masa-masa SMP di kampung dulu.

Ceritanya begini, sejak kecil aku senang baca kisah hidup orang-orang besar. Dan ayahku adalah orang pertama yang memperkenalkan hobi istimewa ini padaku. Saat di bangku sekolah dasar aku sudah baca riwayat hidup presiden-presiden Amerika. Menyusul beberapa tokoh-tokoh dunia seperti Nabi Muhammad SWT, Nelson Mandela, dst. Kata ayahku, dengan banyak membaca riwayat hidup orang-orang besar seperti itu, kita akan tahu tentang jalan hidup mereka, yang kemudian kita bisa belajar banyak di dalamnya. Duh, jadi ingat ayah di kampung nih, habis ini telepon aaah.hehe.

Nah, suatu hari aku pernah baca sekilas tentang riwayat hidup Bapak Marty Natalegawa (Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat dan Menteri Luar Negeri pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono). Beliau itu pernah lama di luar negeri, bahkan di usia 11 tahun beliau sudah mengenal kehidupan luar. Satu hal yang membuatku kagum adalah proses pemerolehan jodohnya,hehe –kembali ke topik awal nih-.

Jadi Pak Marty itu ketemu jodohnya di perpustakaan kampus loh, keren banget kan. Kala itu beliau sedang menempuh pendidikan di Inggris. Perjumpaan pertama yang langsung membuatnya jatuh hati dengan seorang perempuan asal Thailand bernama Sranya Bamrungphong. Jujur waktu itu aku tuh terinspirasi dengan sangat gitu, bahwa keinginan untuk memperoleh nasib yang sama begitu besar. Yah, walaupun nggak di perpustakaan, di ruang-ruang yang prestigious lah, dalam suasana diskusi, seminar atau sejenisnya. 

Berlanjut nih ceritanya, pokoknya dalam mindset aku tuh ingin suatu saat nanti ketemu jodoh di ruang-ruang istimewa seperti yang sudah kusebut di atas. Bertahun-tahun loh pikiran itu bersemanyam dalam diriku. Hingga pada suatu hari aku bertemu dengan seorang perempuan asal Cilegon dalam sebuah diskusi di Jakarta.    

Mulai nih ceritanya,haha. Namanya Iim karimah, dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang. Secara nggak sengaja aku terlibat dalam satu sesi diskusi kelompok terarah dengannya. Diskusi yang dimaksud merupakan rangkaian dari proses seleksi untuk menjadi Pencerah Nusantara –sebuah program penguatan pusat layanan kesehatan primer yang digagas oleh Kantor Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia Untuk Millenniun Development Goals.   

Suasana FGD bersama Dokter Iim Karimah ( Jilbab Hijau ), tampak juga salah seorang panelis Bpk, Yanuar Nugroho (Deputi II Kepala Staf Kepresidenan yang menangani kajian dan pengelolaan program prioritas)
Yah seperti anak muda Indonesia kebanyakanlah, usai diskusi kami kenalan sambil tukar nomor Handphone.hehe. Selanjutnya, dari Jakarta kami kembali ke rumah masing-masing. Aku pulang ke Dompu, Nusa Tenggara Barat, sedangkan Iim merapat ke Cilegon. Komunikasi di antara kami pun terjalin terus menerus sembari menunggu pengumuman kelulusan.

Foto prewed di studio foto
Singkat cerita, tepat sebulan setelah seleksi FGD, Interview, dan Psikotes itu, akhirnya kami menerima satu berita gembira yaitu diterima menjadi Pencerah Nusantara. Ini berarti kami harus siap dikirim ke pelosok nusantara untuk mengabdi selama satu tahun. Namun sebelum berpisah, lewat komunikasi yang terjalin dengan sangat hangat tadi, aku dan dokter Iim diam-diam telah sepakat untuk menjalani hubungan yang serius. Jadi, persis sebelum masuk training Pencerah Nusantara yang dipusatkan di TMII, kami berdua sudah dalam status calon isteri dan calon suami. Haha. Duh, jadi malu sendiri nih kalau ingat yang gini-gini. Semoga bisa dibaca oleh anak-anak kami suatu hari nanti. Aamiin Ya Rabb.  

Setahun mengabdi untuk Indonesia tercinta. Aku kerja dengan komunitas suku Dayak di pedalaman Kalimantan Timur – kecamatan Kelay - Kabupaten Berau -. Sementara dokter Iim di pesisir Ogotua – kecamatan Dampal Utara- Kabupaten Toli-toli - Sulawesi Tengah. 

Dan cintapun akhirnya membawa kami untuk kembali ke Jakarta. Nggak lama setelah kontrak dengan Kantor Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk MDGs itu habis, kami pun sepakat untuk mengikat hubungan ini dalam satu ikatan suci. Tapi sebelum itu pastinya ada proses lamaran dululah.hehe.  Itu berlangsung sekitar bulan Oktober 2014, sebelum kami melangsungkan acara akad nikah dan resepti pada tanggal 4 Januari 2015. 

Resepsi pernikahan kami berlangsung di Gd. Kampus Al-Khairiyah- Cilegon
Nah, kembali lagi ke inti cerita yah, mindset. Kalian pasti pernah baca dong buku-buku motivasi yang mengagungkan kekuatan berpikir dan kekuatan kayakinan. Jujur, aku dulu berawal dari hal yang sama. Semuanya berawal dari mimpi, hingga Tuhan mengabulkan mimpiku itu. 

Ny. Iim Karimah Hidayat
Tenang sahabat-sahabatku yang belum menemukan jodohnya, Tuhan telah menyiapkan orang-orang terbaik / pilihan bagi kalian semua kok dengan cara yang nggak disangka-sangka. Kuncinya satu, keep chin up atau stay positive ajalah sama yang di atas. Karena prasangkaNYA pada kita tergantung prasangka kita padaNYA.     


Tidak ada komentar:

Posting Komentar