Kamis, 23 Februari 2017

BERBURU BABI BERENANG ( Catatan Pencerah Nusantara )



Siang itu, langit Kelay terlihat indah dengan pemandangan awan putih yang berarak-arakan. Kami baru saja menyelesaikan satu tugas mulia, membantu proses persalinan istri Kepala Kampung Lesan Dayak, Mathias. Setelah sempat istirahat, saatnya kami bertiga siap diantar kembali ke pusat kecamatan. Asyik, satu tugas telah diselesaikan dengan baik. Kami bersyukur banget. Kini kebahagiaan menghiasi wajah kepala kampung itu. Air mukanya enggak panik lagi seperti subuh tadi. Selamat yah. Jangan lupa jadwal imunisasi untuk buah hatinya,hehe.        

Kami berpamitan pada semua warga kampung. Terima kasih atas sambutannya yang ramah dan hangat. Enggak lama, aku, Upi, dan Novi sudah di atas ketinting. Meluruskan kaki dan bersandar sesuka hati. Kalau ramai mana bisa seperti ini, yang ada malah kaki kami kaku plus kesemutan karena duduk berdempet-dempetan. Yah, itulah dukanya kerja di pedalaman. Eh, maaf-maaf, Pencerah Nusantara enggak boleh mengeluh, apalagi meratap. Ini tugas mulia untuk warga negara terpilih kan !(selected people).       

Kali ini Pak Mathias enggak memacu ketintingnya seperti tadi pagi. Yah ngapain juga dipacu. Sudah enggak ada yang dikejar. Ijinkan kami menikmati alam Kalimantan yang eksotik sebagai pelepas lelah sekaligus cuci mata. Sejurus kemudian aku merebahkan badanku dan menatap langit yang begitu bersih dan biru. Wah, sungguh pulau ini benar-benar anugerah Tuhan yang paling hebat untuk tanah air Indonesia. 

Aku mengangkat tubuhku lima belas menit kemudian. Nah, enggak bosan-bosannya aku bercerita tentang kondisi di sekelilingku yang berupa bentangan hutan-hutan perawan yang luas. Pohon-pohon raksasa yang tegak berdiri seolah menantang langit yang tinggi. Hmm, walau kami jauh kelap kelip lampu di kota, cukuplah alam yang memperlihatkan kuasa Tuhan yang membuat kami terpesona.   
Ketinting sebagai alat transportasi utama masyarakat di hulu sungai Kelay

Ketinting melaju pelan melawan arus sungai. Dan sepanjang pelayaran sungai itu aku berusaha menutup kegelisahanku tentang berbagai permasalahan kesehatan di sana. Tentang rendahnya cakupan imunisasi lah, rendanya antenatal care lah, dan lain-lain. Sebab jika sudah bersentuhan dengan kepercayaan masyarakat, aku pun mengerutkan dahi.

Perjalanan hari itu enggak cuma diisi oleh kepanikan, melainkan juga kejutan dari pemuda-pemuda Dayak ketika mereka memarkirkan ketintingnya di pinggir sungai lalu sembunyi di baliknya. Enggak bisa kubayangkan apa yang hendak mereka lakukan. Aih, penasaran lagi nih. ‘’Itu orang-orang lagi menunggu babi berenang Pak Mantri”, teriak Pak Mathias.

Yah, aku baru sadar. Hmm, rupanya ini yang pernah diceritakan Dokter Idus dulu, Berburu Babi Berenang. Wah keren juga sebutannya, be be be,haha. Di samping berladang dan mencari madu, hampir semua lelaki Dayak yang berusia produktif suka banget terlibat dalam aktivitas berburu. Apalagi bagi mereka yang hidup di lingkungan sekitar hutan, Hmm, berburu merupakan rutinitas yang penting.
Rimba raya Kalimantan

Soalnya di samping menjadi hiburan karena dilakukan ramai-ramai, berburu juga dapat menjadi aktivitas khusus untuk memperoleh pendapatan tunai. Yah, money talk nih. Menurut mereka perburuan secara khusus itu biasa dilakukan saat musim binatang buruan berlimpah dan harga jual yang meningkat.
sekarang sedang musim babi berenang”, ucapnya lagi.

Aku selalu kagum pada orang-orang Dayak Punan, Dayak Ga’ai, Dayak Lebbo maupun Dayak Kenyah mengenai kuatnya hubungan mereka dengan alam. Semuanya sudah sangat paham dan dengan tepat mengetahui kapan dan dimana babi-babi itu biasa berkumpul atau bermigrasi. Selanjutnya kapan dan dimana babi-babi itu biasa berjalan, mencari makan dan minum di hutan. Luar biasa yah. Kata Pak Mathias keahlian itu mereka miliki dari pengalaman secara turun temurun yang diwariskan oleh para pemburu sebelumnya.

Kalau enggak berdasarkan perilaku binatang, tanda-tanda alam sih yang sering mereka andalkan. Lokasi juga sudah mereka kenali. Contohnya jejak bekas kotoran, jejak kaki, kubangan, dan daerah lembah. Dulu aku berpikir bahwa itu hanya untuk mengisi waktu luang saja. Eh, ternyata enggak. Babi yang didapat ternyata enggak hanya untuk dikonsumsi sendiri, tapi juga dijual dengan harga kisaran Rp.15.000,-/ kg.

Waktu itu aku meminta Pak Mathias untuk memperlambat lagi laju ketintingnya. Harapanku semoga saja ada babi yang berenang,hehe. Enggak sabar rasanya ingin melihat orang-orang itu berlomba-lomba menghidupkan mesin ketintingnya dan mengejar babi berenang bersama-sama. Seperti apa kehebohan yang terjadi di atas sungai Kelay? Intinya aku penasaran lah. Sungguh penasaran.

Dari kejauhan seorang pemuda kulihat sedang memperbaiki tombaknya. Itulah senjata utama yang mereka gunakan untuk berburu babi berenang. Jika mereka berburu di hutan, alat-alat tradisional lain yang digunakan ialah jerat tali, sumpit, parang, dan jebakan. Dengan peralatan sederhana seperti itu, selain babi hutan, binatang lain yang kerap kali ditangkap ialah kijang, kancil, musang, dan monyet.

“Pada waktu-waktu tertentu, babi-babi akan berpindah untuk mencari sumber makanan yang baru” kata Pak Mathias.  Oleh sebab itu orang-orang itu akan mengintai di lokasi-lokasi dimana binatang buruannya biasa melintas”, sambungnya. Enggak cuma itu, dalam hal mengintai mereka juga harus benar-benar paham arah angin dan posisi agar enggak tercium oleh binatang tersebut.

Upi dan Novi sudah tidur rupanya. Capek banget pastinya mereka berdua. Sementara aku masih melihat satu persatu mereka yang sedang sembunyi di balik dedauan. Biasanya mereka akan membuat tempat-tempat pengintaian yang unik dari daun-daun di pinggir sungai pada jarak 10-15 meter.

Memang enggak banyak sih yang diceritakan Dokter Idus waktu itu, tapi aku ingat semuanya. Misalnya menunggu binatang berenang (ripa demangui) adalah satu dari sekian banyak teknik perburuan yang dilakukan oleh orang-orang Dayak. Selain itu ada juga yang menjaga di tempat minum air asin (ripa enar) atau bahkan menjaga di tempat makan buah (ripa bua).

Yah, waktu terus bergerak. Barangkali aku belum beruntung untuk bisa menyaksikan bagaimana orang-orang itu merawat tradisi. Enggak ada satu pun babi yang nongol. Duh, lagi bobo ciang kali yah,haha. Ya sudahlah, memang belum beruntung. Coba lagi di lain kesempatan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar