Siang
itu, langit Kelay terlihat indah dengan pemandangan awan putih yang
berarak-arakan. Kami baru saja menyelesaikan satu tugas mulia, membantu proses
persalinan istri Kepala Kampung Lesan Dayak, Mathias. Setelah sempat istirahat,
saatnya kami bertiga siap diantar kembali ke pusat kecamatan. Asyik, satu tugas
telah diselesaikan dengan baik. Kami bersyukur banget. Kini kebahagiaan menghiasi
wajah kepala kampung itu. Air mukanya enggak panik lagi seperti subuh tadi.
Selamat yah. Jangan lupa jadwal imunisasi untuk buah hatinya,hehe.
Kami
berpamitan pada semua warga kampung. Terima kasih atas sambutannya yang ramah
dan hangat. Enggak lama, aku, Upi, dan Novi sudah di atas ketinting. Meluruskan
kaki dan bersandar sesuka hati. Kalau ramai mana bisa seperti ini, yang ada
malah kaki kami kaku plus kesemutan
karena duduk berdempet-dempetan. Yah, itulah dukanya kerja di pedalaman. Eh,
maaf-maaf, Pencerah Nusantara enggak boleh mengeluh, apalagi meratap. Ini tugas
mulia untuk warga negara terpilih kan !(selected people).
Kali
ini Pak Mathias enggak memacu ketintingnya seperti tadi pagi. Yah ngapain juga
dipacu. Sudah enggak ada yang dikejar. Ijinkan kami menikmati alam Kalimantan
yang eksotik sebagai pelepas lelah sekaligus cuci mata. Sejurus kemudian aku
merebahkan badanku dan menatap langit yang begitu bersih dan biru. Wah, sungguh
pulau ini benar-benar anugerah Tuhan yang paling hebat untuk tanah air
Indonesia.
Aku
mengangkat tubuhku lima belas menit kemudian. Nah, enggak bosan-bosannya aku
bercerita tentang kondisi di sekelilingku yang berupa bentangan hutan-hutan
perawan yang luas. Pohon-pohon raksasa yang tegak berdiri seolah menantang
langit yang tinggi. Hmm, walau kami jauh kelap kelip lampu di kota, cukuplah
alam yang memperlihatkan kuasa Tuhan yang membuat kami terpesona.
| Ketinting sebagai alat transportasi utama masyarakat di hulu sungai Kelay |
Ketinting
melaju pelan melawan arus sungai. Dan sepanjang pelayaran sungai itu aku
berusaha menutup kegelisahanku tentang berbagai permasalahan kesehatan di sana.
Tentang rendahnya cakupan imunisasi lah, rendanya antenatal care lah, dan lain-lain. Sebab jika sudah bersentuhan
dengan kepercayaan masyarakat, aku pun mengerutkan dahi.
Perjalanan
hari itu enggak cuma diisi oleh kepanikan, melainkan juga kejutan dari
pemuda-pemuda Dayak ketika mereka memarkirkan ketintingnya di pinggir sungai
lalu sembunyi di baliknya. Enggak bisa kubayangkan apa yang hendak mereka
lakukan. Aih, penasaran lagi nih. ‘’Itu
orang-orang lagi menunggu babi berenang Pak Mantri”, teriak Pak Mathias.
Yah,
aku baru sadar. Hmm, rupanya ini yang pernah diceritakan Dokter Idus dulu,
Berburu Babi Berenang. Wah keren juga sebutannya, be be be,haha. Di samping
berladang dan mencari madu, hampir semua lelaki Dayak yang berusia produktif suka
banget terlibat dalam aktivitas berburu. Apalagi bagi mereka yang hidup di
lingkungan sekitar hutan, Hmm, berburu merupakan rutinitas yang penting.
| Rimba raya Kalimantan |
Soalnya
di samping menjadi hiburan karena dilakukan ramai-ramai, berburu juga dapat
menjadi aktivitas khusus untuk memperoleh pendapatan tunai. Yah, money talk nih. Menurut mereka perburuan
secara khusus itu biasa dilakukan saat musim binatang buruan berlimpah dan
harga jual yang meningkat.
“sekarang sedang musim
babi berenang”, ucapnya lagi.
Aku
selalu kagum pada orang-orang Dayak Punan, Dayak Ga’ai, Dayak Lebbo maupun
Dayak Kenyah mengenai kuatnya hubungan mereka dengan alam. Semuanya sudah
sangat paham dan dengan tepat mengetahui kapan dan dimana babi-babi itu biasa
berkumpul atau bermigrasi. Selanjutnya kapan dan dimana babi-babi itu biasa
berjalan, mencari makan dan minum di hutan. Luar biasa yah. Kata Pak Mathias keahlian
itu mereka miliki dari pengalaman secara turun temurun yang diwariskan oleh
para pemburu sebelumnya.
Kalau
enggak berdasarkan perilaku binatang, tanda-tanda alam sih yang sering mereka
andalkan. Lokasi juga sudah mereka kenali. Contohnya jejak bekas kotoran, jejak
kaki, kubangan, dan daerah lembah. Dulu aku berpikir bahwa itu hanya untuk
mengisi waktu luang saja. Eh, ternyata enggak. Babi yang didapat ternyata
enggak hanya untuk dikonsumsi sendiri, tapi juga dijual dengan harga kisaran
Rp.15.000,-/ kg.
Waktu
itu aku meminta Pak Mathias untuk memperlambat lagi laju ketintingnya.
Harapanku semoga saja ada babi yang berenang,hehe. Enggak sabar rasanya ingin
melihat orang-orang itu berlomba-lomba menghidupkan mesin ketintingnya dan
mengejar babi berenang bersama-sama. Seperti apa kehebohan yang terjadi di atas
sungai Kelay? Intinya aku penasaran lah. Sungguh penasaran.
Dari
kejauhan seorang pemuda kulihat sedang memperbaiki tombaknya. Itulah senjata
utama yang mereka gunakan untuk berburu babi berenang. Jika mereka berburu di
hutan, alat-alat tradisional lain yang digunakan ialah jerat tali, sumpit,
parang, dan jebakan. Dengan peralatan sederhana seperti itu, selain babi hutan,
binatang lain yang kerap kali ditangkap ialah kijang, kancil, musang, dan
monyet.
Upi
dan Novi sudah tidur rupanya. Capek banget pastinya mereka berdua. Sementara
aku masih melihat satu persatu mereka yang sedang sembunyi di balik dedauan. Biasanya
mereka akan membuat tempat-tempat pengintaian yang unik dari daun-daun di
pinggir sungai pada jarak 10-15 meter.
Memang
enggak banyak sih yang diceritakan Dokter Idus waktu itu, tapi aku ingat
semuanya. Misalnya menunggu binatang berenang (ripa demangui) adalah satu dari sekian banyak teknik perburuan yang
dilakukan oleh orang-orang Dayak. Selain itu ada juga yang menjaga di tempat
minum air asin (ripa enar) atau bahkan
menjaga di tempat makan buah (ripa bua).
Yah,
waktu terus bergerak. Barangkali aku belum beruntung untuk bisa menyaksikan
bagaimana orang-orang itu merawat tradisi. Enggak ada satu pun babi yang nongol.
Duh, lagi bobo ciang kali yah,haha. Ya sudahlah, memang belum beruntung. Coba
lagi di lain kesempatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar