Kamis, 23 Februari 2017

Ketinting Penghubung Kampung



Kondisi geografis kecamatan Kelay sungguh berbeda dengan kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Berau. Jarak dari satu kampung ke kampung lainnya yang sangat jauh. Beberapa kampung tidak bisa dijangkau dengan jalan darat. Maka ketinting –perahu kayu bermotor- menjadi pilihan.

Pada satu kesempatan, bersama rombongan Bupati dan seluruh SKPD Berau, kami berkunjung ke daerah hulu. Dari puskesmas induk, dua jam perjalanan menggunakan kendaraan operasional puskesmas yaitu ambulans. Jalan licin dan jurang-jurang yang curam menjadi pemandangan yang kadang menakutkan selama perjalanan. Batang-batang kayu besar (logs) juga tampak berantakan di tepi-tepi jalan. Sebab beberapa perusahakan kayu masih beroperasi. 

Rombongan pergi karena akan ada pesta di kampung Long Duhung. Tema besarnya adalah “Perayaan Pelibatan Masyarakat Dalam Melestarikan Hutan Berau”. Sebuah kegiatan yang diprakarsai oleh warga kampung bersama The Nature Conservancy (TNC). Sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang mengedukasi warga kampung untuk menjaga dan mempertahankan hutannya. Hutan adalah rumah kedua mereka, untuk itu hutan harus dipertahankan.

Selama perjalanan, rombongan bermalam di rumah-rumah warga. Ada juga yang bermalam di puskesmas pembantu. Di kampung ini, tim Pencerah Nusantara berdiskusi, berbagi dan memperkenalkan diri kepada kepala kampung, petugas kesehatan, kader posyandu maupun warga secara keseluruhan. 

Catatan penulis dalam buku Kisah Tujuh Penjuru



Ketinting yang membawa kami ke kampung-kampung terjauh
Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan ke kampung Long Suluy. Perjalanan ke kampung paling hulu ini harus menggunakan ketinting. Semua kendaraaan dinas pejabat, berikut ambulan mau tidak mau diparkir. Puluhan perahu kayu bermotor berjejer di sepanjang bibir sungai. Petualangan akan segera dimulai, mengarungi sungai selama empat jam.

Empat jam di dalam ketinting menjadi pengalaman yang tidak pernah dilupakan karena begitu membekas. Kiri dan kanan sungai adalah hutan Kalimantan yang rindang. Sungai yang dilalui sangat lebar dengan arus deras yang menakutkan. Selama perjalanan, religiositas anggota rombongan meningkat karena doa-doa yang dipanjatkan. Satu ketinting bisa dinaiki Sembilan orang. Duduk diam di atasnya sambil bercerita ringan, mengabadikan diri lewat telepon genggam, dan tidur dibuai riak-riak adalah hal-hal yang mengasyikkan. 

Namun, tidak diduga-duga, hujan turun saat kami baru menempuh setengah perjalanan. Tidak ada tempat berteduh di tengah sungai. Perjalanan tetap harus dilanjutkan sehingga semuanya basah. Dingin sudah pasti, lapar juga tidak bisa dipungkiri. Namun, tidak ada alasan untuk mengeluh. Semua benar-benar harus dinikmati sampai rombongan benar-benar sampai di kampung yang dituju.

Malamnya kami semua membaur dengan masyarakat suku asli Dayak Punan yang bermukin di hulu sungai Kelay itu. Tarian tradisional disuguhkan oleh anak-anak mudanya untuk kami tamu istimewa yang baru pertama kali berkunjung. Membaur dalam keramahan sehingga acara berlangsung hingga larut malam.

Esok paginya tim Pencerah Nusantara melaksanakan penjaringan kesehatan siswa-siswi sekolah dasar, Posyandu baliti dan melatih kader mengisi Kartu Menuju Sehat. Selanjutnya menyapa kepala kampung dan tokoh-tokoh masyarakat merupakan aktifitas wajib sebelum ketinting membawa kami untuk perjalanan berikutnya yang lebih tidak terduga.   

Catatan ini pernah dimuat dalam buku Kisah Tujuh Penjuru yang diterbitkan oleh Penerbit Buku KOMPAS, 2014. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar