Kondisi geografis kecamatan Kelay sungguh berbeda
dengan kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Berau. Jarak dari satu kampung ke
kampung lainnya yang sangat jauh. Beberapa kampung tidak bisa dijangkau dengan
jalan darat. Maka ketinting –perahu
kayu bermotor- menjadi pilihan.
Pada satu kesempatan, bersama rombongan Bupati
dan seluruh SKPD Berau, kami berkunjung ke daerah hulu. Dari puskesmas induk,
dua jam perjalanan menggunakan kendaraan operasional puskesmas yaitu ambulans.
Jalan licin dan jurang-jurang yang curam menjadi pemandangan yang kadang
menakutkan selama perjalanan. Batang-batang kayu besar (logs) juga tampak
berantakan di tepi-tepi jalan. Sebab beberapa perusahakan kayu masih
beroperasi.
|
|
Rombongan pergi karena akan ada pesta di kampung
Long Duhung. Tema besarnya adalah “Perayaan Pelibatan Masyarakat Dalam
Melestarikan Hutan Berau”. Sebuah kegiatan yang diprakarsai oleh warga kampung
bersama The Nature Conservancy (TNC).
Sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang mengedukasi warga kampung untuk menjaga
dan mempertahankan hutannya. Hutan adalah rumah kedua mereka, untuk itu hutan
harus dipertahankan.
Selama perjalanan, rombongan bermalam di
rumah-rumah warga. Ada juga yang bermalam di puskesmas pembantu. Di kampung
ini, tim Pencerah Nusantara berdiskusi, berbagi dan memperkenalkan diri kepada
kepala kampung, petugas kesehatan, kader posyandu maupun warga secara
keseluruhan.
![]() |
| Catatan penulis dalam buku Kisah Tujuh Penjuru |
Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan ke
kampung Long Suluy. Perjalanan ke kampung paling hulu ini harus menggunakan
ketinting. Semua kendaraaan dinas pejabat, berikut ambulan mau tidak mau
diparkir. Puluhan perahu kayu bermotor berjejer di sepanjang bibir sungai.
Petualangan akan segera dimulai, mengarungi sungai selama empat jam.
Empat jam di dalam ketinting menjadi pengalaman
yang tidak pernah dilupakan karena begitu membekas. Kiri dan kanan sungai
adalah hutan Kalimantan yang rindang. Sungai yang dilalui sangat lebar dengan
arus deras yang menakutkan. Selama perjalanan, religiositas anggota rombongan
meningkat karena doa-doa yang dipanjatkan. Satu ketinting bisa dinaiki Sembilan
orang. Duduk diam di atasnya sambil bercerita ringan, mengabadikan diri lewat
telepon genggam, dan tidur dibuai riak-riak adalah hal-hal yang
mengasyikkan.
Namun, tidak diduga-duga, hujan turun saat kami
baru menempuh setengah perjalanan. Tidak ada tempat berteduh di tengah sungai.
Perjalanan tetap harus dilanjutkan sehingga semuanya basah. Dingin sudah pasti,
lapar juga tidak bisa dipungkiri. Namun, tidak ada alasan untuk mengeluh. Semua
benar-benar harus dinikmati sampai rombongan benar-benar sampai di kampung yang
dituju.
Malamnya kami semua membaur dengan masyarakat
suku asli Dayak Punan yang bermukin di hulu sungai Kelay itu. Tarian
tradisional disuguhkan oleh anak-anak mudanya untuk kami tamu istimewa yang
baru pertama kali berkunjung. Membaur dalam keramahan sehingga acara
berlangsung hingga larut malam.
Esok paginya tim Pencerah Nusantara melaksanakan
penjaringan kesehatan siswa-siswi sekolah dasar, Posyandu baliti dan melatih
kader mengisi Kartu Menuju Sehat. Selanjutnya menyapa kepala kampung dan
tokoh-tokoh masyarakat merupakan aktifitas wajib sebelum ketinting membawa kami
untuk perjalanan berikutnya yang lebih tidak terduga.
Catatan ini pernah dimuat dalam buku Kisah Tujuh Penjuru yang diterbitkan oleh Penerbit Buku KOMPAS, 2014.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar