Mempersiapkan
masa depan anak melalui pemerolehan pendidikan yang baik ternyata bukan hanya
milik mereka yang hidup dengan berbagai kemudahan fasilitas di kota-kota besar,
melainkan juga harapan sekaligus perhatian mereka di pedalaman Kalimantan
Timur. Sekalipun tak pernah mengenyam hal yang sama, keinginan agar anak-anak
mereka tak bernasib serupa dengan para orangtuanya telah mewarnai kehidupan
masyarakat di kampung Long Duhung hari ini.
Seperti
tak ada kata pesimis dalam kamus hidup mereka saat mendorong anak-anaknya untuk
bercita-cita tinggi. Meskipun peluang itu terbilang sedikit mengingat kondisi
geografis dan finansial yang miris. Mereka yang menggantungkan hidup sepenuhnya
pada rimba raya Kalimantan dan aliran sungai Kelay itu, benar-benar berharap
anak-anak mereka kelak akan bertemu dengan nasib hidup yang lebih baik.
Long
Duhung adalah salah satu kampung tertinggal di kecamatan Kelay, kabupaten
Berau. Dihuni oleh sekitar 36 kepala keluarga yang merupakan rumpun masyarakat
dari suku Dayak Punan. Bagi mereka, hutan dan sungai adalah sumber kehidupan
yang utama. Oleh sebab itu, telah menjadi kewajiban bersama untuk mengelolanya
dengan baik demi proses kehidupan yang berkelanjutan.
Hampir
99 persen masyarakat Long Duhung tak pernah mengenyam pendidikan. Sejak kecil
mereka telah diperkenalkan dengan berbagai keterampilan hidup oleh orangtuanya.
Sebut saja berladang, berburu, mencari emas, dan sebagainya.
Keterampilan-keterampilan itulah yang menjadi modal mereka sehingga mampu
bertahan sampai sekarang. Walau dengan kerampilan itu mereka tak menemukan
kesulitan dalam menyambung hidup, dengan sumber daya hutan yang melimpah,
khusus untuk generasi penerus, mereka menginginkan sesuatu yang lebih dari
kondosi mereka saat ini.
Pendidikan ala Orang-Orang Yang Ditinggalkan
Masyarakat
yang mendiami kampung Long Duhung adalah orang-orang pedalaman yang
ditinggalkan. Tak ada listrik yang mengalir ke sana, pun tak ada akses air
bersih. Pemerintah hanya menfasilitasi mereka dengan sebuah sekolah dasar
filial dan satu puskesmas pembantu. Namum demikian, mereka tetap bisa
menjalankan rutinitas sehari-hari tanpa merasa terganggu.
| Keterampilan yang sudah diajari sejak dini |
Meskipun
tak pernah mengenal dunia baca tulis, mereka sadar betapa pentingnya pendidikan
bagi anak-anak mereka dan tahu bahwa jaman akan semakin berkembang dan
dibutuhkan pribadi-pribadi yang unggul agar mampu bersaing di dalamnya. Jika
tak dipersiapkan dari sekarang, maka kelak anak-anak mereka akan kembali
terlempar ke belakang dan ditinggalkan oleh kemajuan sebagaimana ayah dan
ibunya dulu.
Untuk
itu, berbagai cara dilakukan oleh orangtua dalam menyemangati anak-anak mereka
agar ke sekolah. Misalnya dibelikan seragam baru dan biaya untuk itu mereka
peroleh dari hasil penjualan madu yang mereka cari di tengah hutan. Atau
aksesoris khas Dayak yang mereka rajut sendiri lalu dijual ke kota. Mereka tak
ingin menyia-nyiakan kesempatan sekolah yang diberikan oleh pemerintah untuk
anak-anak mereka walau hanya sekolah dasar dulu.
Terkait
dengan biaya, mereka akan tetap bekerja keras untuk memperoleh penghasilan
tambahan demi memenuhi pundi-pundinya. Aliran sungai Kelay sering menjadi
ladang mengais emas dan tak sedikit dari mereka yang telah mengambil manfaat
dari aktifitas itu. Intinya apapun telah dan akan mereka lakukan demi membiayai
sekolah putra-putrinya.
Selain
mendukung anak-anak mereka untuk pendidikan formal di sekolah jarak jauh itu,
para orangtua juga membekali anak-anaknya dengan keterampilan hidup. Sebut saja
Martiagus, siswa kelas IV itu tiap hari harus turun ke sungai sekembali dari
sekolah untuk mencari ikan. Perahu-perahu besar dan panjang dengan lincah ia
kendalikan ke sana ke mari.
Atau
ada juga yang membantu orangtuanya merawat tanaman sayuran di pekarangan rumah
masing-masing. Tomat, cabe, terong ialah jenis tanaman yang biasa ditanam untuk
konsumsi sehari-hari. Selanjutnya jika masa libur sekolah tiba, kebiasaan masuk
hutan orang tua akhirnya diperkenalkan juga kepada anak-anak mereka. Nah, di
sanalah aktivitas-aktivitas fisik akan lebih banyak diajarkan. Katakanlah
membuat perangkap babi hutan, payau (menjangan), mencari madu, rotan, dan
buah-buahan.
“dari
dulu kami hidup dari hasil hutan” ucap Mathias sang kepala kampung. Di
antara mereka ada juga yang berkelakar “hutan ini ibarat deposito bank yang
kami siapkan untuk kehidupan nanti, seperti ATM juga yang bisa didatangi
kapanpun kami mau dan butuhkan’’
Mimpi Anak-Anak Mapnan
Tak
banyak yang tahu bahwa masyarakat Long Duhung hari ini beda jauh dengan sepuluh
tahun silam. Dimana mereka sudah lebih terbuka kepada siapapun yang datang
berkunjung ke sana. Bahkan menyapa lebih dahulu dengan penuh keramahan.
“jika
disapa, kebanyakan dari mereka memilih diam dan menunduk, sangat susah
mengeluarkan kata-kata” ucap Siswandi, seorang aktivis Lembaga Swadaya
Masyarakat yang sudah lima tahun terakhir melaksanakan beberapa program
penguatan kapasitas masyarakat di sana.
Keberanian
membuka diri seperti itu mereka tularkan kepada anak-anak mereka juga, terutama
dalam bercita-cita. Jika dulu mereka tak punya bahkan tak tahu apa itu
cita-cita, sekarang banyak dari anak-anak Mapnan– sebutan untuk orang Dayak Punan-
yang telah menggenggam mimpi kelak mau jadi apa.
Jessica
misalnya, kelak ia ingin jadi guru. Alasan utama memilih profesi itu agar bisa
mengajar. Walau ibundanya sadar bahwa profesi itu terkadang tak memberinya
penghasilan yang banyak. Apalagi jika harus mengabdi di tempat-tempat yang jauh
dari liputan kamera media, sama sekali tak menjanjikan kesejahteraan. Namun sang
ibu juga sadar untuk tak memaksakan kehendaknya pada anak.
Para
orangtua yakin jika keinginan anak-anak mereka itu berangkat dari permasalahan
yang hingga detik ini mereka hadapi di kampung itu. Sebab di sana hanya ada
seorang guru. Namanya Lizun, perempuan asal Toraja yang merantau ke Kalimantan.
Adapun dua orang guru yang lain tak menetap di sana. Mereka lebih banyak
menghabiskan waktunya di kota sehingga tingkat kehadirannya di sekolah sangat
menyedihkan.
| Martiagus - depan kanan - bersama teman-temannya di tepi sungai Kelay |
Selain
itu mereka juga ingin jadi perawat agar bisa mengobati orangtua mereka jika
sakit. Cita-cita inipun bermula dari permasalahan yang sama. Seringkali petugas
kesehatan yang ditugaskan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Berau di kampung itu
tak ada di tempat. Sehingga masyarakat akan kesulitan mengakses pelayanan
kesehatan dasar jika sewaktu-waktu mereka butuhkan. Hal ini yang seringkali
membuat mereka kecewa. Sehingga tak salah jika mereka mendukung cita-cita anak
mereka untuk menjadi bidan atau perawat. Dengan harapan mereka bisa kembali
mengabdi di kampung mereka sendiri.
“biarlah
mereka sendiri yang menentukan. Sebagai orangtua kami hanya bisa mendoakan yang
terbaik untuk mereka di masa depan’’ ucap ibunda Jessica dengan penuh
keyakinan.
Terakhir
mereka berharap kepada pemerintah untuk membangun sekolah lanjutan di kampung
terdekat seperti Long Boi. Karena jarak dari kampung Long Duhung ke pusat
kecamatan Kelay lumayan jauh. Butuh waktu kurang lebih 3 jam jika melalui jalur
darat dengan jurang di kiri dan kanan jalan. Jika sedang hujan roda kendaraan berpotensi
tergelincir atau terperosok karena sifat jalan yang licin. Sedangkan melalui
jalur sungai, waktu yang dihabiskan bisa sampai 5 jam. Sinar matahari akan
terasa menyengat dengan jeram-jeram yang berbahaya. Dengan adanya sekolah
lanjutan yang dapat diakses dengan mudah, mimpi orang-orang Long Duhung untuk
menyekolahkan anak-anak mereka hingga jenjang yang lebih tinggi akan semakin
kuat.
Catatan:
Tulisan ini pernah dimuat oleh TRIBUN BALI edisi Minggu, 12 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar