Rabu, 22 Februari 2017

Merajut Mimpi Masyarakat Long Duhung




Mempersiapkan masa depan anak melalui pemerolehan pendidikan yang baik ternyata bukan hanya milik mereka yang hidup dengan berbagai kemudahan fasilitas di kota-kota besar, melainkan juga harapan sekaligus perhatian mereka di pedalaman Kalimantan Timur. Sekalipun tak pernah mengenyam hal yang sama, keinginan agar anak-anak mereka tak bernasib serupa dengan para orangtuanya telah mewarnai kehidupan masyarakat di kampung Long Duhung hari ini.

Seperti tak ada kata pesimis dalam kamus hidup mereka saat mendorong anak-anaknya untuk bercita-cita tinggi. Meskipun peluang itu terbilang sedikit mengingat kondisi geografis dan finansial yang miris. Mereka yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada rimba raya Kalimantan dan aliran sungai Kelay itu, benar-benar berharap anak-anak mereka kelak akan bertemu dengan nasib hidup yang lebih baik. 

Long Duhung adalah salah satu kampung tertinggal di kecamatan Kelay, kabupaten Berau. Dihuni oleh sekitar 36 kepala keluarga yang merupakan rumpun masyarakat dari suku Dayak Punan. Bagi mereka, hutan dan sungai adalah sumber kehidupan yang utama. Oleh sebab itu, telah menjadi kewajiban bersama untuk mengelolanya dengan baik demi proses kehidupan yang berkelanjutan.

Hampir 99 persen masyarakat Long Duhung tak pernah mengenyam pendidikan. Sejak kecil mereka telah diperkenalkan dengan berbagai keterampilan hidup oleh orangtuanya. Sebut saja berladang, berburu, mencari emas, dan sebagainya. Keterampilan-keterampilan itulah yang menjadi modal mereka sehingga mampu bertahan sampai sekarang. Walau dengan kerampilan itu mereka tak menemukan kesulitan dalam menyambung hidup, dengan sumber daya hutan yang melimpah, khusus untuk generasi penerus, mereka menginginkan sesuatu yang lebih dari kondosi mereka saat ini. 

Pendidikan ala Orang-Orang Yang Ditinggalkan 

Masyarakat yang mendiami kampung Long Duhung adalah orang-orang pedalaman yang ditinggalkan. Tak ada listrik yang mengalir ke sana, pun tak ada akses air bersih. Pemerintah hanya menfasilitasi mereka dengan sebuah sekolah dasar filial dan satu puskesmas pembantu. Namum demikian, mereka tetap bisa menjalankan rutinitas sehari-hari tanpa merasa terganggu.

Keterampilan yang sudah diajari sejak dini
Meskipun tak pernah mengenal dunia baca tulis, mereka sadar betapa pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka dan tahu bahwa jaman akan semakin berkembang dan dibutuhkan pribadi-pribadi yang unggul agar mampu bersaing di dalamnya. Jika tak dipersiapkan dari sekarang, maka kelak anak-anak mereka akan kembali terlempar ke belakang dan ditinggalkan oleh kemajuan sebagaimana ayah dan ibunya dulu. 

Untuk itu, berbagai cara dilakukan oleh orangtua dalam menyemangati anak-anak mereka agar ke sekolah. Misalnya dibelikan seragam baru dan biaya untuk itu mereka peroleh dari hasil penjualan madu yang mereka cari di tengah hutan. Atau aksesoris khas Dayak yang mereka rajut sendiri lalu dijual ke kota. Mereka tak ingin menyia-nyiakan kesempatan sekolah yang diberikan oleh pemerintah untuk anak-anak mereka walau hanya sekolah dasar dulu.

Terkait dengan biaya, mereka akan tetap bekerja keras untuk memperoleh penghasilan tambahan demi memenuhi pundi-pundinya. Aliran sungai Kelay sering menjadi ladang mengais emas dan tak sedikit dari mereka yang telah mengambil manfaat dari aktifitas itu. Intinya apapun telah dan akan mereka lakukan demi membiayai sekolah putra-putrinya. 

Selain mendukung anak-anak mereka untuk pendidikan formal di sekolah jarak jauh itu, para orangtua juga membekali anak-anaknya dengan keterampilan hidup. Sebut saja Martiagus, siswa kelas IV itu tiap hari harus turun ke sungai sekembali dari sekolah untuk mencari ikan. Perahu-perahu besar dan panjang dengan lincah ia kendalikan ke sana ke mari.

Atau ada juga yang membantu orangtuanya merawat tanaman sayuran di pekarangan rumah masing-masing. Tomat, cabe, terong ialah jenis tanaman yang biasa ditanam untuk konsumsi sehari-hari. Selanjutnya jika masa libur sekolah tiba, kebiasaan masuk hutan orang tua akhirnya diperkenalkan juga kepada anak-anak mereka. Nah, di sanalah aktivitas-aktivitas fisik akan lebih banyak diajarkan. Katakanlah membuat perangkap babi hutan, payau (menjangan), mencari madu, rotan, dan buah-buahan. 

“dari dulu kami hidup dari hasil hutan” ucap Mathias sang kepala kampung. Di antara mereka ada juga yang berkelakar “hutan ini ibarat deposito bank yang kami siapkan untuk kehidupan nanti, seperti ATM juga yang bisa didatangi kapanpun kami mau dan butuhkan’’

Mimpi Anak-Anak Mapnan 

Tak banyak yang tahu bahwa masyarakat Long Duhung hari ini beda jauh dengan sepuluh tahun silam. Dimana mereka sudah lebih terbuka kepada siapapun yang datang berkunjung ke sana. Bahkan menyapa lebih dahulu dengan penuh keramahan. 

“jika disapa, kebanyakan dari mereka memilih diam dan menunduk, sangat susah mengeluarkan kata-kata” ucap Siswandi, seorang aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat yang sudah lima tahun terakhir melaksanakan beberapa program penguatan kapasitas masyarakat di sana.

Keberanian membuka diri seperti itu mereka tularkan kepada anak-anak mereka juga, terutama dalam bercita-cita. Jika dulu mereka tak punya bahkan tak tahu apa itu cita-cita, sekarang banyak dari anak-anak Mapnan– sebutan untuk orang Dayak Punan- yang telah menggenggam mimpi kelak mau jadi apa. 

Jessica misalnya, kelak ia ingin jadi guru. Alasan utama memilih profesi itu agar bisa mengajar. Walau ibundanya sadar bahwa profesi itu terkadang tak memberinya penghasilan yang banyak. Apalagi jika harus mengabdi di tempat-tempat yang jauh dari liputan kamera media, sama sekali tak menjanjikan kesejahteraan. Namun sang ibu juga sadar untuk tak memaksakan kehendaknya pada anak.

Para orangtua yakin jika keinginan anak-anak mereka itu berangkat dari permasalahan yang hingga detik ini mereka hadapi di kampung itu. Sebab di sana hanya ada seorang guru. Namanya Lizun, perempuan asal Toraja yang merantau ke Kalimantan. Adapun dua orang guru yang lain tak menetap di sana. Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di kota sehingga tingkat kehadirannya di sekolah sangat menyedihkan. 

Martiagus - depan kanan - bersama teman-temannya di tepi sungai Kelay
Selain itu mereka juga ingin jadi perawat agar bisa mengobati orangtua mereka jika sakit. Cita-cita inipun bermula dari permasalahan yang sama. Seringkali petugas kesehatan yang ditugaskan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Berau di kampung itu tak ada di tempat. Sehingga masyarakat akan kesulitan mengakses pelayanan kesehatan dasar jika sewaktu-waktu mereka butuhkan. Hal ini yang seringkali membuat mereka kecewa. Sehingga tak salah jika mereka mendukung cita-cita anak mereka untuk menjadi bidan atau perawat. Dengan harapan mereka bisa kembali mengabdi di kampung mereka sendiri.

“biarlah mereka sendiri yang menentukan. Sebagai orangtua kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka di masa depan’’ ucap ibunda Jessica dengan penuh keyakinan. 

Terakhir mereka berharap kepada pemerintah untuk membangun sekolah lanjutan di kampung terdekat seperti Long Boi. Karena jarak dari kampung Long Duhung ke pusat kecamatan Kelay lumayan jauh. Butuh waktu kurang lebih 3 jam jika melalui jalur darat dengan jurang di kiri dan kanan jalan. Jika sedang hujan roda kendaraan berpotensi tergelincir atau terperosok karena sifat jalan yang licin. Sedangkan melalui jalur sungai, waktu yang dihabiskan bisa sampai 5 jam. Sinar matahari akan terasa menyengat dengan jeram-jeram yang berbahaya. Dengan adanya sekolah lanjutan yang dapat diakses dengan mudah, mimpi orang-orang Long Duhung untuk menyekolahkan anak-anak mereka hingga jenjang yang lebih tinggi akan semakin kuat.

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat oleh TRIBUN BALI edisi Minggu, 12 Juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar