Masyarakat
Dompu – sebagaimana daerah lain di Nusa Tenggara Barat- sedang menikmati
euphoria Pemilihan Kepala Daerah Langsung yang rencananya akan diadakan akhir
tahun ini. Masing-masing individu yang ingin bartarung demi mendapat mandat
dari masyarakat akhir-akhir ini semakin rajin menyapa calon pemilih baik
langsung dengan cara tatap muka yang bertajuk silaturrahim, maupun tak langsung
melalui media cetak seperti poster dan kalender. Hal ini memang bukan barang
baru bagi kita semua, karena tiap kali menjelang musim Pemilihan Kepala Daerah
tiba, adegan-adegan macam ini kerap kali dipertontonkan.
Sebanarnya
tak ada yang keliru dari fenomena di atas, masyarakat Dompu memang harus siap
membangun komunikasi positif dengan calon pemimpinnya. Sebagai orang yang akan
memberi mandat, mereka wajib mengetahui trackrecord dan
mengerti visi-misinya. Lalu melalui tulisan ringan ini, penulis ingin berbagi
pengalaman selama mangabdi di pedalaman bersama masyarakat yang ditinggalkan.
Sekedar berbagi dan sedikit gambaran bagi kita semua agar tak terjebak dengan
intrik fatamorgana pencitraan tokoh dan permainan politik yang menyimpang dari
adagium kearifan lokal Dou
Dompu ma Nggahi Rawi Pahu.
Jejak Franly di Merabu
Siang
itu tanggal 26 Mei 2014, saya baru saja menempuh perjalanan kurang lebih lima
jam lamanya. Cukup melelahkan. Ban ambulans yang tergelincir dan terpelosok
karena jalanan tanah yang licin akibat hujan telah memberi tantangan tersendiri
bagi petualangan hari itu. Ditemani pemandangan jurang di kiri dan kanan jalan,
membelah luasnya bumi Kalimantan, sungguh semuanya adalah perjuangan yang tak
terlupakan.
Warga-warga
kampung Merabu telah menunggu kami tim Puskesmas Keliling dari Puskesmas Kelay
di seberang sungai sana. Mereka tahu bahwa setiap tanggal segitu tenaga kesehatan
akan bertandang sekaligus bermalam di salah satu kampung yang secara
administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan
Timur.
| Kerjasama warga Merabu menyambut sebuah perhelatan |
Bersama
empat orang rekan yang masing-masing berprofesi sebagai Dokter Umum, Bidan,
Perawat dan Pemerhati Kesehatan Masyarakat, kami bergabung dengan Gerakan
Pencerah Nusantara dengan daerah penempatan di pedalaman Kalimantan demi
membantu percepatan pencapaian Millennium
Development Goals (MDGs) di Indonesia.
Hari
itu, bertempat di sekretariat Kerima Puri, sewaktu rehat dari kegiatan
Posyandu, Pembinaan Desa Siaga, maupun Usaha Kesehatan Sekolah, saya
berkesempatan bertukar pengalaman dengan Franly Oley, kepala kampung yang baru
saja dipercaya untuk memimpin kampung yang banyak dihuni oleh masyarakat suku
asli Dayak Lebbo yang berjumlah kurang lebih 205 jiwa.
Ia
adalah pendatang baru di Kampung itu. Lahir di Modoinding, Sulawesi Utara
tanggal 27 April 1989, Pak Franly – begitu ia sering kusapa – menamatkan
pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan jurusan Tata Busana. Berbekal pengalaman
seadanya, ia merantau ikut pamannya yang berprofesi sebagai seorang tukang
kayu. Pekerjaan mendirikan bangunan sekolah dasar di kampung Merabu membuatnya
harus menetap untuk beberapa waktu. Kemudian tak ada yang menyangka jika
penampilannya yang biasa-biasa, diam-diam menarik perhatian seorang pemudi
setempat. Singkat cerita Franly Oley jatuh hati dan menikah di situ.
| Salah satu tarian adat masyarakat Dayak Lebbo |
Seiring
bergeraknya waktu, ia menjalankan peran dan fungsi sebagai warga kampung dengan
baik. Jika ada pertemuan-pertemuan di balai, Franly Oley hadir dan duduk di
antara warga lain. Saat ada kerja bakti, ia berpartisipasi aktif tanpa pamrih.
Dalam gereja, Franly Oley bertindak sebagai musisi untuk pujian-pujian yang
dibawakan tiap kali ibadah. Bersama Asrani – kepala kampung sebelumnya – ia
menggagas berdirinya lembaga Kerima Puri, yang dalam bahasa Dayak Lebbo berarti
hutan yang indah.
Menurutnya,
hutan bagi warga kampung Merabu ibarat deposito bank yang mereka siapkan untuk
kehidupan di masa yang akan datang. Hutan seperti mesin Ajungan Tunia
Mandiri (ATM) yang bisa mereka datangi kapanpun mereka mau dan butuh. Intinya,
pribadi pendatang itu tak apatis. Sehingga tak butuh waktu yang lama baginya
untuk membuktikan bahwa dirinya bisa membaur dan menyesuaikan diri dengan adat
dan kebiasaan masyarakat suku Dayak Lebbo.
Hingga
pada suatu hari, tibalah saatnya bagi Asrani untuk melepas jabatannya. Pertanda
bahwa warga Merabu harus memilih calon pemimpin barunya, dan bermodalkan
kepercayaan warga yang sejak lama membaca dirinya, lelaki yang bukan putera
daerah itu direkomendasikan sebagai salah satu calon kepala kampung. Setelah
melewati mekanisme yang tak banyak berbeda dengan pesta demokrasi di daerah
lainnya di Indonesia, singkat cerita lagi Franly Oley mendapat mandat untuk
menjadi pemimpin mereka.
Berbagai
terobosan telah diupayakan oleh sang kepala kampung terpilih sejak hari
pelantikannya. Manariknya ia mendapat dukungan yang kuat dari Asrani dan
simpatisannya. Walau kalah dalam pemilihan, mantan kepala kampung berikut
pendukungnya tak lantas membentuk barisan sakit hati yang kerjanya hanya
mencari-cari kelemahan Franly Oley sebagai pendatang baru di situ. Atau
mempersiapkan kekuatan politik baru untuk menjatuhkan Franly Oley. Sama sekali
tidak. Ia sebaliknya memilih sikap sebagai pembimbing dan mengarahkan juniornya
jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Satu
contoh, melalui lembaga Kerima Puri yang didirikannya, mereka sama-sama
memperjuangkan SK Hutan Desa dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.
Hutan adalah sumber kehidupan warga kampung Merabu. Aset-aset yang bisa menjadi
sumber kehidupan karena menyokong pertumbuhan ekonomi warga tersimpan di hutan
itu. Misalnya sarang burung walet, madu, dan payau (menjangan).
Tak
ada yang sia-sia dari apa yang mereka perjuangkan. Sekitar pertengahan Maret
tahun 2014, Merabu menjadi satu-satunya kampung di provinsi Kalimantan Timur
yang mendapat penghargaan bergengsi itu. Surat Keputusan tersebut diserahkan
langsung oleh Direktur Jenderal Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai –
Perhutanan Sosial (Dirjen BPDAS-PS) bapak Dr.Ir.
Hilman Nugroho, MP, yang disaksikan lansung oleh bupati Berau bapak Drs. H.
Makmur, HAPK, MM.
Dengan
diraihnya SK Hutan Desa oleh Kampung Merabu, perhatian pemerintah daerah pun
mulai terfokus. Program-program seperti peningkatan ekonomi dan perlindungan
hutan manjadi bukti bahwa pemerintah peduli dan mau membantu kampung itu.
Spirit from the place of nowhere.
Jika
kita cermati baik-baik, maka akan tampak sederet pelajaran berharga dari
kampung yang belum disentuh oleh aliran listrik, air bersih dan signal telepon
itu.They are in the
place of nowhere, barangkali sebutan itu pantas untuk mereka.
Pertama,
dalam konteks memilih pemimpin, seharusnya kita tak terlalu mengedepankan
persepsi bahwa individu itu harus putera daerah – syukur-syukur kalau memang ia
putera daerah-. Selama ia punya integritas dan kredibilitas untuk mengelola
tata pemerintahan yang baik serta jeli melihat potensi-potensi di daerah, maka
bukan hal yang mustahil bagi kita untuk memperjuangkannya.
Sebagai
sebuah kabupaten di Nusa Tenggara Barat yang terus berikhtiar maju dan bersaing
dengan daerah-daerah lain, Dompu butuh pemimpin visioner. Meminjam istilah
Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul CHANGE!, pemimpin visioner itu
seperti mata. Mata yang tak hanya bisa bergerak cepat, tapi juga mampu melihat
hal-hal yang tak tampak oleh mata orang kebanyakan. Franly Oleh telah
membuktikan itu di kampung Merabu. Kejelian matanya melihat potensi yang tidur
di tengah alam kampung Merabu membuat masyarakat di situ seolah lupa dari mana
ia berasal.
Kedua,
di awal-awal kedatangannya Franly Oley tak hadir dengan ambisi untuk jadi
pemimpin di kampung Merabu. Dengan tulus ia menunjukkan kerja nyatanya untuk
masyarakat seluruhnya. Sehubungan dengan hal ini masyarakat Dompu bahkan punya
adagium kearifan lokal yang berbunyi : Nggahi
Rawi Pahu- kesesuaian antara yang diucapkan dengan yang
dikerjakan sehingga ada sesuatu yang dihasilkan. Adagium itu menjadi semacam
alat ukur yang siap mengumumkan secara rutin apa-apa saja yang telah dikerjakan
dan apa-apa saja yang belum selesai dikerjakan. Alat ukur itu penting. Sebab
tanpanya, perubahan atau segala yang diusung bisa-bisa tak mendapat pengakuan
dari masyarakat.
Menarik
hal ini jika melihat apa yang terjadi dewasa ini. Kita di Dompu tak pernah
kekurangan stok pemimpin. Menjelang musim Pemilihan Kepala Daerah,
individu-individu yang ingin maju akan bermunculan bak jamur di musim hujan.
Benar meraka adalah putera daerah, tapi alangkah eloknya jika jauh-jauh hari
mereka hadir dan berbuat sesuatu bagi daerah tanpa harus jadi Bupati dulu. Kita
mengharapkan hadirnya sosok pemimpin daerah yang berorientasi pada tindakan (action oriented).
Seorang eksekutor yang menggelindingkan perubahan secara riil. Penuh dengan
strategi dan solusi. Berbuat sesuatu yang nyata karena selanjutnya biarlah
masyarakat yang menilai kepantasan dan kepatutannya untuk dipilih.
Ketiga,
bagi para simpatisan maupun kandidat kepala daerah, sebenarnya tak penting
melihat kelemahan pemimpin yang sedang memerintah. Akan lebih bijak kalau
tenaga dan pikiran digunakan untuk mempersiapkan konsep, mematangkan visi misi
yang akan diusung kelak. Penulis khawatir kita menjadi orang yang cerdas
melihat kekurangan orang lain sementara lemah untuk mengerti kekurangan diri
sendiri.
Namun,
yang tak kalah berharga kisah dari kampung Merabu adalah sikap politik Asrani.
Ia menempatkan dirinya sebagai mitra diskusi Franly Oley yang menyegarkan. Tak
ada sakit hati yang berlarut-larut atas kekalahannya tempo hari. Asrani tetap
berkontribusi bagi kampung Merabu sesuai dengan porsinya.
Masyarakat
kampung Merabu yang kebanyakan tak pernah sekolah itu sebenarnya telah
meletakkan pondasi berdemokrasi seperti yang dicita-citakan oleh kita selama
ini. Bahwa kesejahteraan kolektif hanya bisa diperoleh saat kita memilih
pemimpin dengan akal sehat dan jauh dari iming-iming nilai rupiah. Kita
benar-benar sadar bahwa pemimpin yang kita perjuangkan adalah pribadi yang akan
balik memperjuangkan kita di kemudian hari.
Dan
tahun ini masyarakat Dompu kembali akan dihadapkan dengan momentum itu. Kita
semua sangat menginginkan terciptanya Pemilihan Kepala Daerah yang berkualitas.
Lepas dari politik uang yang hanya akan mencederai wibawa politik itu sendiri.
Karena hanya dengan cara itu pemimpin yang berkualitas akan dilahirkan. Dan,
siapa pun yang mendapat mandat untuk memimpin Dompu lima tahun ke depan, ialah
pemimpin kita semua.
Tak
terasa hari sudah menjelang sore, Pak Franly mengundangku untuk lanjut
berunding di rumahnya malam nanti. Ia harus segera ke kampung sebelah untuk
membeli bahan bakar Generator Set (genset) sebagai penerang rumahnya tiap
malam.
Catatan:
Tulisan ini pernah dimuat di Harian SUARA NTB edisi tanggal 4 Agustus 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar