Rabu, 22 Februari 2017

Memperjuangkan Pemimpin Yang Memperjuangkan: Inspirasi Dari Masyarakat Yang Ditinggalkan



Masyarakat Dompu – sebagaimana daerah lain di Nusa Tenggara Barat- sedang menikmati euphoria Pemilihan Kepala Daerah Langsung yang rencananya akan diadakan akhir tahun ini. Masing-masing individu yang ingin bartarung demi mendapat mandat dari masyarakat akhir-akhir ini semakin rajin menyapa calon pemilih baik langsung dengan cara tatap muka yang bertajuk silaturrahim, maupun tak langsung melalui media cetak seperti poster dan kalender. Hal ini memang bukan barang baru bagi kita semua, karena tiap kali menjelang musim Pemilihan Kepala Daerah tiba, adegan-adegan macam ini kerap kali dipertontonkan.

Sebanarnya tak ada yang keliru dari fenomena di atas, masyarakat Dompu memang harus siap membangun komunikasi positif dengan calon pemimpinnya. Sebagai orang yang akan memberi mandat, mereka wajib mengetahui trackrecord dan mengerti visi-misinya. Lalu melalui tulisan ringan ini, penulis ingin berbagi pengalaman selama mangabdi di pedalaman bersama masyarakat yang ditinggalkan. Sekedar berbagi dan sedikit gambaran bagi kita semua agar tak terjebak dengan intrik fatamorgana pencitraan tokoh dan permainan politik yang menyimpang dari adagium kearifan lokal Dou Dompu ma Nggahi Rawi Pahu.

Jejak Franly di Merabu

Siang itu tanggal 26 Mei 2014, saya baru saja menempuh perjalanan kurang lebih lima jam lamanya. Cukup melelahkan. Ban ambulans yang tergelincir dan terpelosok karena jalanan tanah yang licin akibat hujan telah memberi tantangan tersendiri bagi petualangan hari itu. Ditemani pemandangan jurang di kiri dan kanan jalan, membelah luasnya bumi Kalimantan, sungguh semuanya adalah perjuangan yang tak terlupakan.

Warga-warga kampung Merabu telah menunggu kami tim Puskesmas Keliling dari Puskesmas Kelay di seberang sungai sana. Mereka tahu bahwa setiap tanggal segitu tenaga kesehatan akan bertandang sekaligus bermalam di salah satu kampung yang secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Kerjasama warga Merabu menyambut sebuah perhelatan
Bersama empat orang rekan yang masing-masing berprofesi sebagai Dokter Umum, Bidan, Perawat dan Pemerhati Kesehatan Masyarakat, kami bergabung dengan Gerakan Pencerah Nusantara dengan daerah penempatan di pedalaman Kalimantan demi membantu percepatan pencapaian Millennium Development Goals (MDGs) di Indonesia.

Hari itu, bertempat di sekretariat Kerima Puri, sewaktu rehat dari kegiatan Posyandu, Pembinaan Desa Siaga, maupun Usaha Kesehatan Sekolah, saya berkesempatan bertukar pengalaman dengan Franly Oley, kepala kampung yang baru saja dipercaya untuk memimpin kampung yang banyak dihuni oleh masyarakat suku asli Dayak Lebbo yang berjumlah kurang lebih 205 jiwa.

Ia adalah pendatang baru di Kampung itu. Lahir di Modoinding, Sulawesi Utara tanggal 27 April 1989, Pak Franly – begitu ia sering kusapa – menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan jurusan Tata Busana. Berbekal pengalaman seadanya, ia merantau ikut pamannya yang berprofesi sebagai seorang tukang kayu. Pekerjaan mendirikan bangunan sekolah dasar di kampung Merabu membuatnya harus menetap untuk beberapa waktu. Kemudian tak ada yang menyangka jika penampilannya yang biasa-biasa, diam-diam menarik perhatian seorang pemudi setempat. Singkat cerita Franly Oley jatuh hati dan menikah di situ.

Salah satu tarian adat masyarakat Dayak Lebbo
Seiring bergeraknya waktu, ia menjalankan peran dan fungsi sebagai warga kampung dengan baik. Jika ada pertemuan-pertemuan di balai, Franly Oley hadir dan duduk di antara warga lain. Saat ada kerja bakti, ia berpartisipasi aktif tanpa pamrih. Dalam gereja, Franly Oley bertindak sebagai musisi untuk pujian-pujian yang dibawakan tiap kali ibadah. Bersama Asrani – kepala kampung sebelumnya – ia menggagas berdirinya lembaga Kerima Puri, yang dalam bahasa Dayak Lebbo berarti hutan yang indah.

Menurutnya, hutan bagi warga kampung Merabu ibarat deposito bank yang mereka siapkan untuk kehidupan di masa yang akan datang.  Hutan seperti mesin Ajungan Tunia Mandiri (ATM) yang bisa mereka datangi kapanpun mereka mau dan butuh. Intinya, pribadi pendatang itu tak apatis. Sehingga tak butuh waktu yang lama baginya untuk membuktikan bahwa dirinya bisa membaur dan menyesuaikan diri dengan adat dan kebiasaan masyarakat suku Dayak Lebbo.

Hingga pada suatu hari, tibalah saatnya bagi Asrani untuk melepas jabatannya. Pertanda bahwa warga Merabu harus memilih calon pemimpin barunya, dan bermodalkan kepercayaan warga yang sejak lama membaca dirinya, lelaki yang bukan putera daerah itu direkomendasikan sebagai salah satu calon kepala kampung. Setelah melewati mekanisme yang tak banyak berbeda dengan pesta demokrasi di daerah lainnya di Indonesia, singkat cerita lagi Franly Oley mendapat mandat untuk menjadi pemimpin mereka.
 
Berbagai terobosan telah diupayakan oleh sang kepala kampung terpilih sejak hari pelantikannya. Manariknya ia mendapat dukungan yang kuat dari Asrani dan simpatisannya. Walau kalah dalam pemilihan, mantan kepala kampung berikut pendukungnya tak lantas membentuk barisan sakit hati yang kerjanya hanya mencari-cari kelemahan Franly Oley sebagai pendatang baru di situ. Atau mempersiapkan kekuatan politik baru untuk menjatuhkan Franly Oley. Sama sekali tidak. Ia sebaliknya memilih sikap sebagai pembimbing dan mengarahkan juniornya jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Satu contoh, melalui lembaga Kerima Puri yang didirikannya, mereka sama-sama memperjuangkan SK Hutan Desa dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. Hutan adalah sumber kehidupan warga kampung Merabu. Aset-aset yang bisa menjadi sumber kehidupan karena menyokong pertumbuhan ekonomi warga tersimpan di hutan itu. Misalnya sarang burung walet, madu, dan payau (menjangan).

Tak ada yang sia-sia dari apa yang mereka perjuangkan. Sekitar pertengahan Maret tahun 2014, Merabu menjadi satu-satunya kampung di provinsi Kalimantan Timur yang mendapat penghargaan bergengsi itu. Surat Keputusan tersebut diserahkan langsung oleh Direktur Jenderal Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai – Perhutanan Sosial (Dirjen BPDAS-PS) bapak Dr.Ir. Hilman Nugroho, MP, yang disaksikan lansung oleh bupati Berau bapak Drs. H. Makmur, HAPK, MM.

Dengan diraihnya SK Hutan Desa oleh Kampung Merabu, perhatian pemerintah daerah pun mulai terfokus. Program-program seperti peningkatan ekonomi dan perlindungan hutan manjadi bukti bahwa pemerintah peduli dan mau membantu kampung itu.

Spirit from the place of nowhere. 

Jika kita cermati baik-baik, maka akan tampak sederet pelajaran berharga dari kampung yang belum disentuh oleh aliran listrik, air bersih dan signal telepon itu.They are in the place of nowhere, barangkali sebutan itu pantas untuk mereka.
Pertama, dalam konteks memilih pemimpin, seharusnya kita tak terlalu mengedepankan persepsi bahwa individu itu harus putera daerah – syukur-syukur kalau memang ia putera daerah-. Selama ia punya integritas dan kredibilitas untuk mengelola tata pemerintahan yang baik serta jeli melihat potensi-potensi di daerah, maka bukan hal yang mustahil bagi kita untuk memperjuangkannya.

Sebagai sebuah kabupaten di Nusa Tenggara Barat yang terus berikhtiar maju dan bersaing dengan daerah-daerah lain, Dompu butuh pemimpin visioner. Meminjam istilah Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul CHANGE!, pemimpin visioner itu seperti mata. Mata yang tak hanya bisa bergerak cepat, tapi juga mampu melihat hal-hal yang tak tampak oleh mata orang kebanyakan. Franly Oleh telah membuktikan itu di kampung Merabu. Kejelian matanya melihat potensi yang tidur di tengah alam kampung Merabu membuat masyarakat di situ seolah lupa dari mana ia berasal.

Kedua, di awal-awal kedatangannya Franly Oley tak hadir dengan ambisi untuk jadi pemimpin di kampung Merabu. Dengan tulus ia menunjukkan kerja nyatanya untuk masyarakat seluruhnya. Sehubungan dengan hal ini masyarakat Dompu bahkan punya adagium kearifan lokal yang berbunyi : Nggahi Rawi Pahu- kesesuaian antara yang diucapkan dengan yang dikerjakan sehingga ada sesuatu yang dihasilkan. Adagium itu menjadi semacam alat ukur yang siap mengumumkan secara rutin apa-apa saja yang telah dikerjakan dan apa-apa saja yang belum selesai dikerjakan. Alat ukur itu penting. Sebab tanpanya, perubahan atau segala yang diusung bisa-bisa tak mendapat pengakuan dari masyarakat.

Menarik hal ini jika melihat apa yang terjadi dewasa ini. Kita di Dompu tak pernah kekurangan stok pemimpin. Menjelang musim Pemilihan Kepala Daerah, individu-individu yang ingin maju akan bermunculan bak jamur di musim hujan. Benar meraka adalah putera daerah, tapi alangkah eloknya jika jauh-jauh hari mereka hadir dan berbuat sesuatu bagi daerah tanpa harus jadi Bupati dulu. Kita mengharapkan hadirnya sosok pemimpin daerah yang berorientasi pada tindakan (action oriented). Seorang eksekutor yang menggelindingkan perubahan secara riil. Penuh dengan strategi dan solusi. Berbuat sesuatu yang nyata karena selanjutnya biarlah masyarakat yang menilai kepantasan dan kepatutannya untuk dipilih.

Ketiga, bagi para simpatisan maupun kandidat kepala daerah, sebenarnya tak penting melihat kelemahan pemimpin yang sedang memerintah. Akan lebih bijak kalau tenaga dan pikiran digunakan untuk mempersiapkan konsep, mematangkan visi misi yang akan diusung kelak. Penulis khawatir kita menjadi orang yang cerdas melihat kekurangan orang lain sementara lemah untuk mengerti kekurangan diri sendiri.

Namun, yang tak kalah berharga kisah dari kampung Merabu adalah sikap politik Asrani. Ia menempatkan dirinya sebagai mitra diskusi Franly Oley yang menyegarkan. Tak ada sakit hati yang berlarut-larut atas kekalahannya tempo hari. Asrani tetap berkontribusi bagi kampung Merabu sesuai dengan porsinya.

Masyarakat kampung Merabu yang kebanyakan tak pernah sekolah itu sebenarnya telah meletakkan pondasi berdemokrasi seperti yang dicita-citakan oleh kita selama ini. Bahwa kesejahteraan kolektif hanya bisa diperoleh saat kita memilih pemimpin dengan akal sehat dan jauh dari iming-iming nilai rupiah. Kita benar-benar sadar bahwa pemimpin yang kita perjuangkan adalah pribadi yang akan balik memperjuangkan kita di kemudian hari.

Dan tahun ini masyarakat Dompu kembali akan dihadapkan dengan momentum itu. Kita semua sangat menginginkan terciptanya Pemilihan Kepala Daerah yang berkualitas. Lepas dari politik uang yang hanya akan mencederai wibawa politik itu sendiri. Karena hanya dengan cara itu pemimpin yang berkualitas akan dilahirkan. Dan, siapa pun yang mendapat mandat untuk memimpin Dompu lima tahun ke depan, ialah pemimpin kita semua.

Tak terasa hari sudah menjelang sore, Pak Franly mengundangku untuk lanjut berunding di rumahnya malam nanti. Ia harus segera ke kampung sebelah untuk membeli bahan bakar Generator Set (genset) sebagai penerang rumahnya tiap malam.

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di Harian SUARA NTB edisi tanggal 4 Agustus 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar