Cerita
ini terjadi sekitar akhir tahun 2014 lalu. Pada satu kesempatan tim Pencerah
Nusantara bersama rombongan Bupati Berau, yang terdiri dari seluruh SKPD di Kabupaten
Berau berkunjung ke kampung Long Suluy. Itulah kampung terjauh yang lokasinya
di daerah hulu kecamatan Kelay. Enggak ada akses darat loh ke sana. Ambulans
puskesmas hanya bisa mengantar kami sampai ke Long Duhung. Selebihnya
ketintinglah alat penghubung kampung.
Jalan
licin dan jurang-jurang yang curam menjadi pemandangan yang menakutkan selama
perjalanan. Banyak batang-batang kayu besar (logs) yang diletakkan berantakan
di tepi-tepi jalan. Sebab di sana beberapa perusahaan kayu memang masih aktif
beroperasi. Waktu itu kami bermalam di kampung Long Duhung. Mengadakan kegiatan
antara lain penjaringan kesehatan siswa-siswi sekolah dasar, posyandu balita,
dan pelatihan pengisian Kartu Menuju Sehat untuk para kader kesehatan. Esoknya
rombongan orang-orang di pemerintahan tiba di Long Duhung selanjutnya kami
sama-sama memulai perjalanan menuju Long Suluy.
Puluhan
ketinting berjejer di sepanjang bibir sungai. Hmm, enggak seperti biasanya nih.
Yah, namanya juga ada pejabat yang turun. Pasti ramailah,hehe. Petualangan akan
segera dimulai, mengarungi sungai Kelay selama empat jam. Itulah pengalaman
yang sangat membekas dan enggak akan pernah kulupakan. Aku, Reas, Septi, Upi
dan Novi berada di dalam satu ketinting. Kebetulan juga saat itu ada dua orang
staf di Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk Millennium Development Goals
yang sedang melakukan site visit ke
daerah penempatan kami. Tujuan sih meng-update
informasi.
Kiri
dan kanan sungai terdapat hutan Kalimantan yang rindang. Sungai yang kami dan
seluruh rombongan lalui terlampau lebar dengan arus yang deras. Selama
perjalanan religiusitas anggota rombongan meningkat karena doa-doa untuk
keselamatan banyak dipanjatkan. Dan duduk diam di atas ketinting sambil
bercerita ringan, mengabadikan diri lewat karena telepon genggam, atau tidur
dibuai guncangan riak-riak sungai adalah hal-hal yang menarik.
Hati
kami gembira menyaksikan semua ketinting melaju dengan kecepatan masing-masing
menembus kampung-kampung di pedalaman. Hmm, suasananya berbeda banget.
Masyarakat Long Lamcin, Long Boi, dan Long Pelay sempat menonton kami. Mereka
tampak ceria melihat konvoi ketinting hari itu. Mulai dari anak-anak sampai
orang dewasa seperti sedang menyaksikan lomba cepat ketinting.
| Penulis sedang memimpin rapat dengan pengurus Desa Siaga di kampung Long Duhung |
Satu
yang membuatku pribadi senang saat melihat mereka yang melambaikan tangannya
tinggi-tinggi sembari tersenyum. Jumlahnya enggak sedikit lho. Sambutan hangat
mereka dibalas oleh kami dengan senyum yang enggak kalah hangat. Namun, sesuatu
yang hebat tiba-tiba terjadi. Hujan
turun di saat rombongan baru menempuh setengah perjalanan. Aduh, kacau
nih.
Jadi
gimana terus? Kan enggak ada tempat berteduh di tengah sungai. Mau enggak mau
yah perjalanan harus tetap dilanjutkan sehingga semua anggota rombongan basah.
Enggak terkecuali Bupati beserta isterinya, Wakil Bupati, dan Ketua DPRD. Hmm,
dingin sudah pasti. Lapar juga enggak bisa diingkari. Akan tetapi enggak ada
alasan untuk mengeluh. Semua tetap harus dinikmati hingga kami benar-benar
sampai di kampung yang dituju.
Malamnya,
Bupati Berau H Makmur, Wakil Bupati Ahmad Rifa’i dan Ketua DPRD Hj. Elita Herlina
beserta rombongan lain membaur dengan masyarakat. Tarian-tarian tradisional
disuguhkan oleh pemuda-pemudi setempat untuk tamu istimewa yang mungkin baru
pertama kalinya berkunjung ke situ. Acaranya pun berlangsung hingga larut
malam. Rombongan bermalam di rumah-rumah warga. Sementara tim Pencerah
Nusantara di puskesmas pembantu.
Bangun
pagi. Sarapan dan sebagainya. Lalu kami siap membuka aktivitas. Lelah seharian
kemarin sudah kami bayar lunas dengan istirahat yang cukup semalaman. Suhu tadi
malam sangat dingin. Maklumlah kampung itu letaknya persis di tepi hutan. Aku
sedikit kedinginan karena jaketku masih basah sejak kemarin sore.
Seperti
di kampung Long Duhung, kami melakukan hal yang sama. Aku, Reas dan Septi ke
sekolah untuk penjaringan kesehatan sedangkan Upi dan Novi mengumpulkan para
kader karena akan ada pelatihan pengisian KMS. Enggah jauh sih jarak sekolah
dengan pustu. Atau kalaupun jauh kami nggak akan mengeluh. Sebab sudah dilatih
di Akademi Militer dulu,hehe. Duh, ingat itu lagi.
Di
sekolah kami enggak menemukan banyak peserta didik. Loh kemana mereka, seruku
dalam hati. Kepada kami, satu – dua orang guru di situ bercerita jujur. “banyak
yang sedang ikut orangtuanya masuk hutan, ungkapnya. Kami yang mendengarnya
sungguh terkejut. Terlebih aku yang basic-nya
seorang guru. Pikirku, bagaimana mungkin aku mengijinkan murid-murid
meninggalkan sekolah yang bukan pada waktunya. Liburan maksudnya. Hmm, aku
sedikit shock. Akhirnya penjaringan kesehatan enggak bisa mencapai angka yang
telah ditargetkan. Yah, begitulah kondisinya.
Anak-anak
itu bisa berbulan-bulan di tengah hutan. Waduh, lama juga yah! Ngapain aja tuh
di hutan? Walau demikian status sebagai murid enggak ada yang berani mengganggu
gugat. Enggak ada tindakan coret nama dari daftar hadir siswa sekali pun tiga
bulan sudah enggak menyetor batang hidungnya ke sekolah. Apalagi sanksi tegas,
hmm, enggak ada sama sekali tuh. Kalau sudah menyentuh urusan itu, sejumlah
staf pengajar banyak yang NO COMMENT. Menerima keadaan sebagai hal yang wajar.
Tentu
itulah yang menyebabkan kualitas anak-anak itu terbilang sangat kurang. Karena
sekolah hanya aktivitas untuk mengisi waktu luang saja sambil menunggu musim
masuk hutan tiba. Menambah pengetahuan belum menjadi prioritas. Sehingga paradigma
bahwa sekolah ialah ruang intelektual yang akan membentuk sikap dan perilaku
enggak kunjung hadir dalam pikiran mereka.
Usai
kegiatan aku sempat ngobrol-ngobrol ringan dengan Reas di kelas. Memang benar
yah ketika masyarakat bermasalah dengan pendidikannya, masalah lain yang
otomatis muncul ialah kesehatan dan ekonomi. Hmm, ibarat dua sisi uang logam
nih, enggak bisa dipisahkan karena terlanjur mengikat satu sama lain.hehe.
Sayang sekali padahal ada proses pendidikan yang sedang diupayakan oleh
guru-guru yang hatinya tulus.
Matahari
sudah mulai meninggi nih, ketika teman-teman lain kembali ke pustu, aku memilih
bertahan di sekolah. Lanjut mengumpulkan informasi dari guru-guru. Percakapan
pun berputar ke berbagai hal, tapi lebih banyak tentang karakter anak-anak
dengan sekilas informasi tentang orangtuanya sih.
Berdasarkan
pengakuan mereka, anak-anak di Long Suluy juga enggak pernah mendapat motivasi
dari orangtuanya. Hal ini juga enggak lepas dari tingkat pendidikan orangtuanya
yang cukup memprihatinkan. Banyak yang enggak tuntas di sekolah dasar. Sehingga
dari kapasitas orangtua akan sangat sulit bagi si anak memperoleh teladan serta
pola hidup yang baik dan bertanggung jawab demi masa depannya kelak. Bagi
orangtuanya, mengajari anak-anak mereka mendirikan pondok-pondok sederhana di
dalam hutan, tahu caranya mencari madu, mengerti cara mengambil buah, menguasai
langkah-langkah menangkap babi itu semua jauh lebih penting. Enggak ada tuh di
bangku sekolah.
Dan
kalaupun ke sekolah, anak-anak di Long Suluy jarang yang bersentuhan dengan
yang namanya mandi pagi atau sikat gigi. Enggak perlu membawa buku juga
kadang-kadang. Nasehat yang diberikan setiap saat agar mandi sebelum berangkat
ke sekolah hanya angin lalu saja. Sudah bertahun-tahun kondisinya masih seperti
itu. Miris juga yah.
Jika
ditelusuri baik-baik, ada yang membuat orang-orang di sana patut merasa pesimis
atas semua ini. Pertama terkait infrastruktur. Hingga berakhir masa tugas kami
di sana belum ada listrik sehingga anak-anak meraka enggak bisa belajar
malamnya. Kedua akses untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi pun sulit.
Sekolah Menengah Pertama ada di pusat kecamatan. Huuuf, jauhnya tuh.
Aku
yakin dalam pikiran mereka muncul semacam kepasrahan atau putus asa terhadap
keadaan. Bagaimana mungkin para orangtua mampu membawa anak-anak menyeberangi
jembatan panjang perubahan di tengah alam yang enggak mendukung sedikit pun.
Sehingga mereka berkesimpulan dari pada menghabiskan waktu untuk sesuatu yang
enggak menjamin hidup mereka, lebih baik fokus pada hal-hal yang sudah pasti.
Termasuk keluar masuk hutan.
Duh,
aku jadi bingung nih. Yuuuk semuanya ikut bantu mencari benang merahnya? Benang
putihnya enggak yah, Haha. Pertama sih tugas pemerintah nih menjamin pendidikan
yang berkualitas untuk mereka. Sebab mereka juga anak-anak Indonesia lho yang
segenap tumpah darahnya harus dilindungi oleh negara. Lho bahasanya sudah
kemana tuh,hehe. Karena boleh jadi masalahnya bukan pada anak-anak yang enggak
mau sekolah melainkan ketersediaan akses yang belum memadai. Dilema banget kan.
Waktunya
pulang. Hari itu juga tim Pencerah Nusantara kembali naik ketinting. Menempuh
perjalanan berikutnya yang lebih enggak terduga. Setelah seharian memikirkan
proses pendidikan di Long Suluy, kali ini aku harus ikut memikirkan nasib ketinting
yang maju mundur seperti dipermainkan arus. Dan lelaki Dayak yang bertubuh
kekar itu adalah seorang motoris dengan keahlian dan pengetahuan mendalam
tentang aliran sungai Kelay. Bagaimana menghindari tikungan-tikungan, memotong
simpang-simpang, sampai memanfaatkan arus-arus. Sunguh luar biasa. Walau
penampilannya lemah dia adalah pribadi yang tangguh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar